1.265 Tahun Hidupnya Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Salatiga

Bunderan Salatiga tempo dulu

Bundaran Salatiga tempo dulu

Saat ini konflik dan ketegangan hubungan antar umat beragama sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia baik secara lisan maupun dalam media sosial, yang baru- baru ini terjadi adalah peristiwa di Tolikara, Papua. Berita yang digoreng oleh berbagai macam media dan tersebar di media sosial, yang selanjutnya dibumbui oleh berbagai macam komentar netizen di seluruh Indonesia menjadikan keruhnya hubungan antar masyarakat. Jika kita mengerti dan memahami dasar Negara kita (Pancasila) seharusnya hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi, dan ini tidak akan menjadi penyulut keruhnya hubungan berbangsa masyarakat Indonesia.

 

 

Salatiga adalah salah satu kota kecil yang juga memiliki keragaman budaya, etnis, ras, dan kepercayaan yang hidup dalam satu kota, sehingga Salatiga sering juga disebut “Indonesia Kecil”. Keberadaan kampus UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) yang berdiri pada tahun 1956 juga menjadi salah satu pelengkap keberagaman yang hidup di Kota Salatiga, karena mahasiswa UKSW berasal dari berbagai macam daerah di seluruh Indonesia. Keberagaman ini dapat dijaga keharmonisannya oleh masyarakat kota Salatiga hingga saat ini. Namun, apakah sikap toleransi ini muncul tiba-tiba? jawabannya akan kita bahas pada bagian selanjutnya.

Hari ini Jumat tanggal 24 Juli 2015 Salatiga tepat berusia 1265 tahun, umurnya lebih tua dari mahakarya bangsa Indonesia yaitu candi Borobudur. Penentuan hari jadi Salatiga ini didasarkan pada prasasti Plumpungan yang tertulis pada tanggal 24 Juli tahun 750 M. Lahirnya kota Salatiga ini sekaligus juga memperingati hidupnya toleransi antar umat beragama di Salatiga. Keharmonisan dalam keberagaman dan tingginya sikap toleransi dalam masyarakat Salatiga telah tumbuh sejak 1265 tahun yang lalu, hal tersebut dibuktikan dengan isi dari prasasti Plumpungan.

Prasasti Plumpungan

Prasasti Plumpungan sebagai dasar penentu hari jadi Kota Salatiga.
(http://brahmaadjietravelling.blogspot.com/)

Dalam laporan penelitian hari jadi Kota Salatiga yang dilakukan oleh tim peneliti pada tahun 1995, dijelaskan makna dan isi dari prasasti Plumpungan. Para peneliti menyebutkan bahwa Masyarakat Salatiga pada tahun 750 M telah menyadari betul begitu pentingnya agama sebagai landasan untuk hidup sejahtera, selain itu dalam isi dan lambang yang tertera dalam prasasti plumpungan nampak adanya sikap toleransi antar umat beragama. Toleransi antar umat beragama merupakan modal dasar dalam mencapai kesejahteraan hidup. Toleransi yang hidup pada tahun 750 masehi di Salatiga terjadi antar umat Hindu dan Budha, mengingat agama yang berkembang pada abad ke-8 adalah agama Hindu- Budha.

Bersambung ke halaman 2

Pages: 1 2

Previous Info Stock Darah PMI Kota Salatiga
Next Gairah Tanggal Tua #14 "Nasionalisme : Garudaku Terbang Kemana?"

You might also like

Artikel 0 Comments

Relasi: Rumah, Alam, dan Makhluk Hidup

Rumah tinggal berbahan kayu, rumah yang memperhatikan keadaan lingkungan sekitar tempat tinggal, keberadaan halaman dan ruang terbuka untuk aktivitas sosial, mungkin sekarang sudah makin jarang ditemui di Indonesia. Arsitekur dan

Sejarah 0 Comments

Membongkar Konspirasi Perayaan 4 Abad VOC dan Peringatan Kolonial Sentiling (Bag 1)

Tahun 2002, pada sepanjang tahun tersebut, Belanda memperingati dan merayakan “4 Abad VOC” dengan berbagai event di seluruh negeri itu. Belasan tahun kemudian, bertepatan usia satu abad peristiwa Koloniale Tentoonstelling

Berita 0 Comments

Akademisi UKSW sesalkan perobohan benda cagar budaya

Menurut Kepala Program Studi Sejarah FKIP-UKSW, perobohan Rumah Dr. Muwardi di Jalan Pemuda merupakan suatu bentuk peniadaan benda-benda sejarah. Hal ini sangat disayangkan mengingat sejarah penunjukan Kota Salatiga sebagai Kota

1 Comment

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image