51 tahun Gugurnya Komodor Yos Sudarso – 15 Januari (1962 – 2013)

51 tahun sudah Yos Sudarso gugur dalam medan pertempuran di laut Aru, dia menyangkal takdir ‘manusia sebagai makhluk Cipataan Tuhan yang dari tanah akan kembali ke tanah’, karena hingga kini jazadnya abadi di lautan lepas. Yos Sudarso lahir di Salatiga pada tanggal 24 November 1925, putra kebanggaan kota Salatiga bahkan bangsa Indonesia ini, merupakan salah satu pahlawan yang gugur di medan pertempuran, tepatnya pertempuran yang terjadi di Laut Arafuru kepulauan Aru pada 15 Januari 1962. Pada umur 37 tahun Yos Sudarso dengan gagah berani membela Tanah Air untuk tetap tegaknya NKRI, bahkan dengan rela mengorbankan nyawanya sendiri.

Perangko KRI Macan Tutul

Perangko KRI Macan Tutul

Pertempuran ini sebenarnya adalah sebuah operasi yang dilakukan oleh militer Indonesia untuk merebut kembali Irian Barat yang masih dalam kekuasaan Belanda. Operasi intelijen menjadi pilihan yang paling strategis karena kekuatan militer Indonesia dianggap belum mampu menandingi pasukan Belanda pada perang terbuka. Tujuan dari operasi ini adalah membangun pos-pos intelijen di daratan Irian Barat. Pasukan Militer Indonesia tidak memiliki informasi tentang Irian Barat, baik informasi tentang musuh, keadaan alam, dan medan Papua Barat itu sendiri. Itulah tujuan infiltrasi ini, dan tugas tersebut tersebut diserahkan kepada Angkatan darat. Menteri keamanan tidak mengetahui adanya operasi ini, dan tidak ada bukti tertulis mengenai operasi ini. Hal inilah yang menjadikan para Sejarawan menyimpulkan bahwa para perwira operasi ini melaksanakan operasi intelijen dengan kesepakatan mereka sendiri.

Pemimpin dari operasi ini adalah Letkol Sudomo. Pada tanggal 5 Januari 1962 Letkol Sudomo memimpin rapat koordinasi dengan 4 komandan MTB yang akan ikut dalam operasi. Jabatan Yos Sudarso saat itu adalah deputi Operasi KSAL (Kepala Satuan Angkatan Laut) dan sebenarnya beliau tidak terlibat dalam operasi ini. Namun karena solidaritas dan keputusannya sebagai seorang prajurit dan pemimpin yang bertanggung jawab akan anak buahnya dan juga kedaulatan negara, maka Yos Sudarso memutuskan untuk ikut dalam operasi militer ini. Pada 9 januari 1962 menjelang maghrib, keempat MTB berangkat dari Tanjung Priok yang dipimpin langsung oleh Sudomo. Dikatakan oleh Suharmaji mantan ABK Macan Tutul, ketika daratan Irian Barat sudah terlihat secara remang-remang, secara mendadak dari lambung kanan ada pesawat belanda yang bergerak lalu kembali dan menembaki kapal-kapal MTB Indonesia, mereka juga menembakkan roket tetapi tidak mengenai MTB. Pada saat itulah kapal yang terakhir yaitu Macan Kumbang menembak pesawat-pesawat Belanda.

Pasukan militer Indonesia ini juga tidak mengetahui bahwa disekitar mereka sudah ada kapal destroyer Belanda yang menyambut kedatangan mereka. KRI Macan Tutul yang digunakan oleh Komodor Yos Sudarso dan ketiga MTB lainnya ini tidak dilengkapi dengan torpedo sebagai senjata utamanya, sehingga tidak ada perlawanan ketika operasi ini terbongkar oleh pihak Belanda. Karena Belanda berpikir bahwa kapal-kapal MTB ini dilengkapi dengan torpedo, maka sebelum pasukan Indonesia menyerang mereka menyerang terlebih dahulu dengan memberondong dan mengkonsentrasikan tembakan ke kapal-kapal MTB Indonesia tersebut. Kenyataanya, keempat MTB ini memang tidak dilengkapi dengan Terpedo.

KRI Macan Tutul

KRI Macan Tutul

Belum begitu lama setelah Yos Sudarso mengambil alih pimpinan operasi, anjungan KRI macan Tutul terbakar. Menurut pengakuan Sukirman mantan ABK Macan Tutul yang mengisahkan detik-detik akhir gugurnya Yos Sudarso. Sang Komodor menyampaikan pesan melalui radio RPF nya yang pasti diterima oleh kedua kapal dan oleh pos-pos PHB seluruh TNI angkatan laut dan institusi TNI lainnya. Pesan tersebut adalah “Kobarkan Semangat Pertempuran”. Seketika itu juga, KRI macan tutul tenggelam dan suasana menjadi sunyi.

Tepat 51 satu tahun pada tanggal 15 Januari 2013 ini gugurnya Orang nomor dua di lingkungan angkatan laut Republik Indonesia, sekaligus pahlawan Nasional Indonesia Komodor Yos Sudarso. Bahkan mungkin masih banyak yang belum mengetahui akan adanya peristiwa pertempuran Aru ini. Lautan Arafuru menjadi saksi perjuangan Komodor Yos Sudarso. Peristiwa ini memberikan nilai moral dimana integritas bangsa adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar dan ini menjadi harga mati. Keputusan, keberanian, serta patriotisme itu muncul untuk melawan belenggu penjajahan.

Di era yang serba canggih dan Modern sekarang,  rasanya melihat sebuah peristiwa sejarah bukan menjadi hal yang penting lagi. Peristiwa sejarah dianggap sebagai sebuah masa lalu dan tidak layak lagi untuk dikenang dan dipahami. Pemikiran inilah awal dari hilangnya jati diri dan identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Kita memiliki beragam contoh dan panutan yang dapat kita pelajari. Peristiwa-peristiwa patriotic banyak terjadi di negara kita, karena Negara Indonesia berdiri bukan karena belas kasih dari negara lain. Indonesia berdiri dengan kekuatan dan kebersamaan bangsa kita yang mandiri dan pantang menyerah.

Kita dan Yos Sudarso memang hidup di zaman yang berbeda, Yos Sudarso melawan belenggu penjajahan Belanda dan kita saat ini melawan belenggu penjajahan bangsa kita sendiri bahkan diri kita sendiri, dimana saat ini kita semua belum bisa sepenuhnya mengendalikan diri untuk berjuang menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan bertaring lagi. Terkadang antar masyarakat Indonesia sendiri tidak menyadari bahwa kita adalah satu bangsa hingga kita saling menjatuhkan satu sama lain yang notabene adalah satu bangsa.

Banyak nilai yang dapat kita ambil dalam perjuangan Yos Sudarso hingga dia mengorbankan nyawanya demi kepentingan orang lain dan demi kepentingan kelangsungan hidup kita sebagai generasi penerus bangsa Indonesia saat ini. Kita dapat melihat diri kita masing-masing dari peristiwa ini, hanya orang bodoh yang melawan musuh tanpa membawa senjata dan armada yang sebanding, mereka hanya membawa tekad dan semangat untuk mewujudkan Indonesia yang utuh dan berdaulat. Gugurnya Yos Sudarso adalah titik tonggak simbol kebesaran bangsa, perjuangan, dan semangat patirotik bangsa kita untuk mewujudkan Indonesia yang utuh dan merdeka sepenuhnya yang diwujudkan melalui pengorbanan dan keberanian pahlawan-pahlawan kita.

Yos Sudarso

Yos Sudarso

Sadarilah bahwa kita hidup di Indonesia yang kekayaan alamnya menyediakan semua kebutuhan kita hingga kita bisa bertahan hidup hingga saat ini. Alam Indonesia memberikan segala macam yang kita butuhkan yang mungkin tidak semua bangsa dapat merasakananya, kita mempunyai sumber daya alam yang luar biasa yang bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Perjuangan untuk bangsa terkadang memang sulit dilakukan, tapi inilah yang harus kita kerjakan sebagai generasi muda. Kita masih memiliki impian, kekuatan, waktu, semangat, dan tekad. Tekad untuk memberikan perubahan kepada bangsa kita menjadi lebih baik dan bangsa yang dapat bersaing dan mempunyai harga diri di dunia internasional. Pada Peringatan 51 tahun gugurnya Yos Sudarso ini mari kita mulai perjuangan memberikan perubahan yang lebih baik kepada bangsa dan negara Indonesia sesuai dengan peran dan tugas kita Sebagai generasi Muda bangsa Indonesia.

“Tengok dan sapalah,  sejarah adalah bagian dari perjalanan budaya bangsa kita sendiri, dari situ kita akan lihat bangkitnya negeri ini”. Abel J.P

Foto : http://id.wikipedia.org , http://shipstamps.co.uk/

Artikel ditulis oleh Abel Jatayu Prakosa, mahasiswa Universitas Diponegoro jurusan Sejarah

Previous Kaos Salatiga
Next Daftar Perguruan Tinggi Ikatan Dinas dan Besiswa Penuh

You might also like

Artikel 0 Comments

Membongkar Konspirasi Perayaan 4 Abad VOC dan Peringatan Kolonial Sentiling (Bag 1)

Tahun 2002, pada sepanjang tahun tersebut, Belanda memperingati dan merayakan “4 Abad VOC” dengan berbagai event di seluruh negeri itu. Belasan tahun kemudian, bertepatan usia satu abad peristiwa Koloniale Tentoonstelling

Berita 1Comments

Mantan Ketua Senat Mahasiswa UKSW Tolak Mall baru

Baru-baru ini dunia pendidikan salatiga Khususnya Pendidikan Tinggi dibuat gerah dengan rencana pengembang untuk membangun Mall di lahan Ex KODIM 0714/Salatiga. Pasalnya, MALL tersebut akan berdiri diatas lahan yang berdekatan

Sejarah 0 Comments

LGBT masa Kolonial : Operasi penyisiran hingga ke Salatiga

Pada 1938, Residen Batavia, Fievez de Malinez tertangkap basah tengah berbuat cabul dengan seorang lelaki muda bumiputera di sebuah hotel Tionghoa di Bandung. Peristiwa itu tak hanya menghebohkan, tapi juga

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image