DRUMBLEK Salah Satu Aset Kesenian Kota SALATIGA

Para penabuh dengan beberapa atribut khasnya, memainkan musik dengan media tong bekas. Mereka memainkan musik secara berkelompok dengan berbaris layaknya sebuah kelompok Marching Band. Kita bisa menjumpai musik ini di berbagai kota antara lain di Salatiga dan Yogyakarta. Di Yogyakarta kita bisa melihatnya di Dukuh Salakan jl. Parang Tritis tepatnya di depan ruko Salakan.

Di Salatiga warga mengenalnya dengan istilah drumblek, salah satu aset kesenian kota SALATIGA. Musik ini sering kita jumpai pada setiap acara yang ada di kota Salatiga. Bisa dikatakan bahwa drumblek sudah menjadi ikon di kota Salatiga. Drumblek merupakan salah satu kesenian musik yang baru mengalami perkembangan di kota Salatiga. Perkembangan ini bisa kita lihat dengan banyak sekali bermunculan kelompok para penabuh tong tersebut di beberapa daerah khususnya kota Salatiga. Ada beberapa kelompok yang sudah dikenal antara lain : Pancuran, Pungkursari, Banjaran, MTS Yasita, Turusan (Laskar Patimura).

Di Salatiga drumblek sering dijumpai dibeberapa acara sampai acara yang diselenggarakan khusus untuk drumblek itu sendiri pun sudah pernah digelar. Festival drumblek Salatiga salah satu contoh acara yang digelar khusus untuk drumblek itu sendiri. Wahana wisata Dream Land Salatiga adalah salah satu penyelenggara sekaligus sebagai lokasi yang pernah menyelenggarakan acara festival drumblek Salatiga.

Pada bulan Desember 2012 lalu salah satu komunitas di Salatiga yaitu Kampoeng Salatiga mengadakan acara Salatiga Lawasan #2 yang diselenggarakan di Hotel Griya Tetirah. Acara ini mengusung tema “Mencari (lagi) Salatiga”. Dari tema yang diangkat dalam acara tersebut Kampoeng Salatiga khususnya divisi Seni dan Budaya mengadakan sarasehan drumblek sebagai salah satu rangkaian dari acara Salatiga Lawasan #2 tersebut. Sarasehan ini terselenggara atas dasar fenomena drumblek yang sedang digandrungi warga Salatiga. Dari situ sebenarnya kita bisa mengkaji musik tersebut lebih dalam lagi sehingga kedepannya drumblek tidak hanya sebagai kesenian masa lalu yang akan hilang ditelan waktu bila kita tidak bisa mendokumentasikannya dengan baik. Untuk itu Kampoeng Salatiga mempunyai ide untuk menggali sejarah munculnya drumblek di kota Salatiga pada sarasehan drumblek ini.

Narasumber menjadi kendala dalam penyelenggaraan acara ini. Siapa yang layak menjadi narasumber dalam sarasehan ini? Itu menjadi tugas Kampong Salatiga yang akhirnya harus melakukan riset untuk menelusuri kembali darimana drumblek di Salatiga itu muncul. Dari situ pasti akan muncul sosok siapa yang tahu lebih dalam mengenai drumblek dan akhirnya orang tersebut yang nantinya layak menjadi seorang narasumber. Akhirnya dari data yang didapatkan, Kampoeng Salatiga memilih Didik Subiantoro Masuri atau biasa di panggil Mas Didik dari sanggar Jambu Pancuran sebagai narasumber sarasehan tersebut. Sanggar Jambu Pancuran adalah sebuah sanggar yang membina drumblek di kampung Pancuran. Kelompok ini merupakan salah satu kelompok drumblek tertua atau juga bisa dikatakan sebagai pelopor drumblek Salatiga dan mempunyai anggota paling banyak di banding kelompok drumblek lainnya yang berada di Salatiga.

Sasaran dari sarasehan ini adalah seluruh masyarakat kota Salatiga dan juga Kampoeng Salatiga mengundang beberapa komunitas antara lain : beberapa komunitas drumblek, komunitas perkusi dan komunitas drumer Salatiga. Dengan adanya sarasehan ini diharapkan dapat memberikan informasi baru mengenai drumblek kepada masyarakat dan dapat menjalin hubungan baik sesama kelompok drumblek khususnya kota Salatiga. Dalam kegiatan sarasehan drumblek sedikit banyak memberikan wacana bagi masyarakat.

Yang pertama mengenai sejarah drumblek. Menurut hasil sarasehan tersebut ada satu informasi mengenai sejarah drumblek di Salatiga. Drumblek di Salatiga sudah ada sejak tahun 1986 dimana mas Didik dan kawan-kawan Pancuranlah yang mempunyai ide untuk membuat drumblek. Ide itupun muncul ketika Pancuran mempunyai kewajiban untuk berpartisipasi dalam acara karnaval peringatan HUT RI yang diadakan oleh pemerintah kota Salatiga. Tetapi pada waktu itu dana operasional yang diberikan untuk Pancuran sangatlah minim. Akhirnya barang bekas adalah solusi agar kegiatan partisipan karnaval kota bisa dilaksanakan. Dengan memakai tong sampah dan beberapa tong pinjaman dari pedagang ikan mas Didik membentuk kelompok penabuh tong yang diberi nama Drumband Tinggal Kandas. Dalam proses melatih kelompok ini mas Didik dibantu oleh almarhum ayahnya yang saat itu adalah pelatih drumband Pemuda Muhamadiyah dan beberapa teman yang sudah mempunyai pengalaman sebagai praktisi drumband. Jadi bila dilihat dari sejarahnya Salatiga sudah mempunyai kelompok drumblek sejak tahun 1986. Dari sisi keasliannya dapat ditarik kesimpulan bahwa drumblek adalah murni ide putera kota Salatiga. Akan tetapi hal ini perlu dikaji ulang kembali untuk dapat mengetahui bahwa drumblek adalah kesenian yang berasal dari Salatiga.

Drumblek Pancuran tidak berhenti pada satu acara itu saja. Drumblek menjadi satu kegiatan rutin tahunan untuk mengisi acara HUT RI karena permintaan masyarakat juga. Yang perlu diketahui juga pada tahun 1995 drumblek Salatiga mendapat kesempatan untuk tampil pada acara ulang tahun emas Indonesia di Jakarta. Pada saat itu personil yang menabuh drumblek bukan hanya dari masyarakat Pancuran saja tetapi gabungan dari beberapa daerah antara lain Pungkursari, Ngenthak dan Margosari. Awal terbentuknya drumblek hanya mempunyai ± 50 orang. Pada saat bermain di Jakarta sudah bisa menyaring sekitar ± 600 orang. Dari sisi perkembangan drumblek juga bisa dilihat bahwa pada tahun 1995 sudah tampil pada tingkat Nasional. Kemungkinan itu juga bisa menginspirasi terbentuknya drumblek di kota-kota lainnya.

Instrumentasi yang digunakan saat ini yang umum digunakan adalah tong sampah alumunium sebagai pengganti snare drum, tong plastik besar sebagai bass drum dan belira atau glokenspiel sebagai instrumen melodi. Pada awalnya instrumen melodi belum menggunakan belira atau glokenspiel tetapi menggunakan wilah dalam gamelan Jawa.

Repertoar dan aransemen yang dimainkan juga bersifat bebas, tidak ada aturan baku dalam memainkan musik ini. Tetapi dilihat dari sisi musik/musikologis gaya dalam permainan drumblek hampir sama dengan drumband atau marching band. Dilihat dari sisi tehnik permainan alat memang berbeda dengan kelompok drum yang sudah ada. Tehnik permainan yang dipakai dalam kelompok drumblek lebih bersifat bebas karena pemain dalam kelompok ini adalah masyarakat biasa.

Dari sarasehan drumblek kita mendapatkan wacana dari salah seorang peserta “Apakah drumblek bisa menjadi ikon kota Salatiga?”. Dari hal ini perlu adanya upaya untuk menjadikan drumblek sebagai ikon kota Salatiga. Acara yang berhubungan dengan drumblek pastinya salah satu upaya untuk menjadikan drumblek sebagai ikon kota Salatiga. Disamping itu juga perlu ada dokumentasi terlulis mengenai drumblek sebagai salah satu upayanya. Dari hasil sarasehan tersebut bisa menjadi langkah awal dalam mengkaji kembali drumblek sebagai kesenian Salatiga.

Hal ini dapat menjadi tugas Kampoeng Salatiga, dinas dan akademisi terkait untuk dapat mewujudkan drumblek sebagai ikon kota Salatiga sehingga dapat mengangakat citra kota Salatiga lewat kesenian.

Foto: Said Hidayat

Raprika Bangkit

dari Komunitas Kampoeng Salatiga

Previous Mantan Ketua Senat Mahasiswa UKSW Tolak Mall baru
Next Pelestarian Arsitektur dan Tata Ruang Kota Salatiga

You might also like

Artikel 0 Comments

Selasar Kartini atau Deretan Kios Kartini ???

Selasar Kartini, ya, nama itu dipilih untuk menghias dan mempercantik ruang terbuka hijau di sepanjang jalan kartini tepatnya di area depan SMA N 3 Salatiga. Hingga saat ini pengerjaan proyek

Artikel 0 Comments

Membongkar Konspirasi Perayaan 4 Abad VOC dan Peringatan Kolonial Sentiling (Bag 1)

Tahun 2002, pada sepanjang tahun tersebut, Belanda memperingati dan merayakan “4 Abad VOC” dengan berbagai event di seluruh negeri itu. Belasan tahun kemudian, bertepatan usia satu abad peristiwa Koloniale Tentoonstelling

Sejarah 0 Comments

Idul Fitri di Tengah Gelombang Revolusi

TIGA pekan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sukarno mendengar desas-desus keberadaan Tan Malaka di Jakarta. Sebagai pemimpin politik yang telah diangkat menjadi presiden, dia ingin sekali bertemu dengan tokoh pergerakan legendaris

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image