Hancurnya Rumah Tinggal dr Muwardi

Hancurnya BCB (Benda Cagar Budaya) yang berupa bangunan di Salatiga sudah menjadi hal yang biasa dan tidak terlalu penting Bagi masyarakat Salatiga, Kesadaran masyarakat dan Pemerintah terhadap BCB sebagai sebuah identitas kota masih sangat minim. Ini terbukti dari beberapa bangunan yang telah masuk dalam daftar inventarisasi BCB Salatiga yang dihancurkan. Semakin banyak Bangunan yang dihancurkan sama saja melucuti satu persatu bukti kekhas`an kota Salatiga yang mungkin tidak dimiliki oleh kota-kota lain.

ex rumah dr muwardi

Satu lagi identitas Kota Salatiga hancur, Bangunan yang masuk dalam daftar inventarisasi BCB kota Salatiga tahun 2009 yang berlokasi di jalan Pemuda no.11, Salatiga ini telah dihancurkan. Bangunan yang dibangun pada awal abad XX ini merupakan salah satu bangunan hasil dari Kebudayaan Campuran antara Belanda dan Jawa yang disebut sebagai kebudayaan indis. Yang lebih menarik lagi ada catatan pada buku inventarisasi BCB Kota Salatiga tahun 2009,bahwa bagunan ini adalah rumah tinggal dr Muwardi, namun tidak dijelaskan secara terperinci mengenai dr Muwardi.

dr muwardi

dr Muwardi

Jika kita kenal dalam Sejarah Indonesia masa pergerakan nasional, dr Muwardi adalah salah satu pahlawan Nasional yang berperan dalam terwujudnya  kemerdekaan Indonesia, beliau lahir di Pati, Jawa Tengah pada tahun 1907. Nama dr Muwardi juga dijadikan sebagai nama RSUD di Kota Solo. dr Muwardi adalah pendiri sekolah kedokteran di Jebres Solo, dia juga sebagai pemimpin barisan Pelopor. dr Muwardi juga membentuk kelompok untuk melawan aksi-aksi PKI, hingga pada akhirnya dr Muwardi diculik oleh PKI pada tanggal 13 September 1948, dan akhirnya terbunuh dalam penculikan tersebut, bahkan hingga kini tidak diketahui dimana mayatnya dikuburkan.

 Dengan bukti-bukti yang ada, Salatiga banyak ikut andil dalam Sejarah perjuangan dan perkembangan Bangsa Indonesia. Penghancuran BCB yang ada di Salatiga sama dengan menghancurkan identitas sebuah kota sekaligus Identitas bangsa. Pengetahuan pemerintah maupun masyarakat mengenai Sejarah dan Budaya sebuah kota masih sangat minim. Secara tidak disadari hal ini juga menjadikan kita ikut andil dalam menghancurkan Nilai-nilai dan Bukti Perjuangan bangsa Kita, juga penghancuran peradaban masa lalu bangsa kita yang notabene sebagai identitas dan jati diri bangsa. Dalam kehidupan Globalisasi seperti saat ini, kekuatan ekonomi yang mendominasi perkembangan dan riwayat sebuah kota ternyata juga diikuti dengan semakin terkikisnya simbol-simbol perjuangan, Nasionalisme, Identitas, dan jati diri kota.

 

ex rumah tinggal dr.Muwardi yang sekarang dihancurkan

Bisa kita bayangkan jika penghancuran bukti-bukti peradaban masa lalu bangsa ini terus berlangsung demi kepentingan ekonomi semata. Maka 10 atau 20 tahun lagi kita akan kebingungan mengenali jati diri dan Sejarah kehidupan kita di masa lalu, karena bukti-bukti nyata peradaban itu sudah hilang dan tidak berbekas. Kita tidak lagi dapat menemukan kisah perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan, kisah sebuah kota dalam beberapa periode zaman dan mengenali jiwa zamannya, ketika esok kita hanya melihat bangunan-bangunan baru yang tampak modern dengan berbagai macam fasilitas juga kemewahannya, namum tidak memiliki nilai dan makna perjuangan sebuah bangsa. Kita akan merasakan kerinduan untuk mengenang masa lalu sebagai alat untuk memotifasi kehidupan di masa yang akan datang.

  Masyarakat dan Pemerintah sangat berperan penting dalam menjaga dan melestarikan Sejarah dan ragam peradaban yang dimiliki kota Salatiga, Pemerintah akan lebih baik jika mulai menyadari akan pentingnya pelestarikan BCB. Kesadaran pemerintah ini diwujudkan dengan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan yang berpihak pada pelestarikan dan pemanfaatan BCB seperti  Perda tentang BCB, Inventarisasi BCB , SK Walikota tentang BCB, dan kebijakan lainnya yang berperan dalam pelestarian BCB. Pemerintah juga dapat membantu masyarakat untuk mengenali Sejarah dan Budaya Kotanya dengan berbagai macam program kreatif Pemerintahan.

 Kebijakan-kebijakan pemerintah ini akan lebih memiliki power dan dampak yang besar jika mendapat dukungan dari masyarakat Kota Salatiga. Masyarakat yang mulai berusaha mengenal Sejarah dan Budaya kota Salatiga akan memberikan pengaruh dan dampak terhadap pelestarian BCB di Salatiga. Jika masyarakat sudah mulai mengenal sejarah dan Budayanya dan hal tersebut sudah populer di kalangan masyarakat, maka rasa memiliki dalam masyarakat akan muncul terhadap BCB yang notabene meiliki nilai sejarah dan budaya. Maka rasa memiliki inilah yang menjadikan masyarakat akan tetap menjaga dan melestarikan peninggalan masa lalu kotanya.

 Dalam Buku Sarinah yang ditulis oleh Ir Soekarno, Soekarno mengatakan bahwa “laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung”, namun dalam hal ini Pemerintah dan Masyarakatlah yang seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu daripada dua sayap itu maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali. Inilah keseimbangan kontribusi yang diharapkan dalam mewujudkan sebuah Kota yang Hati Beriman (Sehat, Bersih, Tertib, Indah, dan Aman) yang tetap melestarikan peradaban masa lalu kotanya.

“Tengok dan Sapalah Sejarah juga Budaya bangsamu, maka akan kita lihat bangkitnya negri ini”

Artikel dikirim oleh  Abel Jatayu Prakosa – Mahasiswa UNDIP Semarang Jurusan Ilmu Sejarah

Previous Sinergi Pembangunan Pasar Tradisional-Modern
Next Drum Blek "Laskar Patimura" Salatiga

You might also like

Kuliner 0 Comments

Spesial Sambel Tumpang Koyor

“Spesial Sambel Tumpang Koyor, Rasane Mak Nyuss Tenan….”          Jalan-jalan kurang lengkap rasanya bila tidak mencoba kuliner khas. Sambel tumpang salah satu makanan khas kota Salatiga. Salah satu

Artikel 0 Comments

Aksi Demonstrasi Siswa SMA N 2 SALATIGA

Demokrasi, setiap warga negara berhak untuk menyuarakan aspirasinya, begitu pula yang terjadi di SMA Negeri 2 Salatiga. Senin, 15 Oktober 2012 siswa SMA Negeri 2 Salatiga menggelar aksi demo yang

Sejarah 0 Comments

Membongkar Konspirasi Perayaan 4 Abad VOC dan Peringatan Kolonial Sentiling (Bag 1)

Tahun 2002, pada sepanjang tahun tersebut, Belanda memperingati dan merayakan “4 Abad VOC” dengan berbagai event di seluruh negeri itu. Belasan tahun kemudian, bertepatan usia satu abad peristiwa Koloniale Tentoonstelling

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image