Idul Fitri di Tengah Gelombang Revolusi

TIGA pekan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sukarno mendengar desas-desus keberadaan Tan Malaka di Jakarta. Sebagai pemimpin politik yang telah diangkat menjadi presiden, dia ingin sekali bertemu dengan tokoh pergerakan legendaris itu. Sukarno telah mengenal nama Tan Malaka semenjak muda. Dia mengagumi sepak-terjang Tan di lapangan politik, juga membaca buku-bukunya.

Sukarno lalu memanggil Sayuti Melik dan menugaskannya untuk mencari keberadaan Tan Malaka. Beruntung, beberapa hari sebelumnya, Sayuti pernah dipertemukan dengan penulis buku Naar de Republiek Indonesia itu oleh Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo. Sehingga dia dengan mudah dapat menemukan Tan Malaka.
Pertemuan pun diatur. Sukarno meminta dr Soeharto, dokter pribadinya, untuk menyiapkan ruang khusus di rumahnya. Tapi, kepada sahibul bait, dia merahasiakan identitas tamunya itu. Malam hari, Sayuti menjemput Tan Malaka dan memboncengkannya dengan sepeda. Kepada dr Soeharto, Tan memperkenalkan diri sebagai Abdul Radjak. Dia lalu diantar ke kamar belakang, di mana Sukarno telah menunggu. Tan dan Sayuti masuk ke dalam kamar, sedangkan Soeharto menunggu di luar. Semua lampu di rumah itu dimatikan. Pertemuan dua tokoh dalam gelap itu terjadi pada Lebaran hari kedua, 9 September 1945.

Sayuti Melik mengisahkan kesaksiannya dalam kolom “Sekitar Testamen untuk Tan Malaka” di harian Sinar Harapan, September 1979. Kisah yang disadur dalam buku Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan itu memberi gambaran kepada kita ihwal dinamika pergerakan politik yang tak mengenal waktu pada masa awal Kemerdekaan. Dua bapak pendiri bangsa mengadakan pertemuan rahasia ketika umat Islam tengah merayakan hari kemenangannya. Selama dua jam, mereka serius membicarakan nasib republik muda yang sejak lama mereka idamkan. Lalu masih di dalam kegelapan kamar, Sukarno menyampaikan testamen politik penting untuk Tan Malaka: “Jika nanti terjadi sesuatu pada diri kami sehingga tidak dapat memimpin revolusi, saya harap Saudara yang melanjutkan.”

Ir.Soekarno - Lapangan Banteng Jakarta, Idul fitri 1950

Foto: Presiden Sukarno menyampaikan amanat Lebaran di hadapan jamaah salat Idul Fitri di Lapangan Banteng Jakarta, pada 1950. (Sumber, Suara Merdeka, 20 Juli 1950)

Lantas bagaimana suasana Lebaran pertama setelah proklamasi itu? Dalam “Idul Fitri Pertama Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia” yang termaktub di buku Membedah Sejarah dan Budaya Maritim, Persembahan untuk Prof AM Djuliati Suroyo, Guru Besar Sejarah UGM Bambang Purwanto mengaku kesulitan mendeskripsikan peristiwa kultural penting tersebut. Dokumentasi, baik berupa arsip, berita di surat kabar, foto, memoar atau biografi tokoh, rekaman audio, maupun audio visual, yang membahas soal itu sangat minim.

Bambang menduga, euforia politik saat itu menghasilkan sikap mental dan kenyataan sosial yang menempatkan kepentingan bangsa di atas hal-hal yang bersifat golongan semacam puasa dan Idul Fitri. Kesaksian Sayuti Melik tentang pertemuan Sukarno dengan Tan Malaka di atas selaras dengan praduga ini.

Meski demikian, Bambang Purwanto mencoba merangkai remah-remah data yang secuil itu. Menurutnya, suasana Lebaran pertama setelah proklamasi tak ubahnya Idul Fitri saat ini yang diliputi kegembiraan masyarakat. Pasar-pasar tradisional terlihat sibuk, umat Islam berbondong-bondong menghadiri salat Id di berbagai tempat lalu dilanjutkan dengan saling berkunjung untuk meminta maaf. Dikampung-kampung, penduduk menghidangkan makanan khas Lebaran, tentu dengan segala keterbatasan.

Di Jakarta, salat Idul Fitri dilaksanakan pada hari Sabtu, 8 September 1945 dan dipusatkan di Lapangan Ikada. Salat sunah dua rakaat itu dimulai pukul 8.30 waktu Jepang, atau pukul 07.00 waktu Indonesia bagian barat. Perlu diketahui bahwa sejak April 1942, waktu di Jawa disamakan dengan waktu yang berlaku di Jepang yang berselisih satu setengah jam lebih cepat. Baru sejak 16 September 1945, peraturan itu dihapus. Penentuan waktu dikembalikan seperti pada masa Hindia Belanda. Komite Nasional Indonesia Daerah Jakarta Raya memasang pengumuman di media massa, meminta umat Islam menghadiri salat id di Lapangan Ikada. Seusai sembahyang, orang-orang saling berjabat tangan. Di sela-sela itu terdengar pekik “merdeka” dibarengi kepalan tinju ke udara. Itulah ekspresi kegembiraan masyarakat yang memiliki identitas baru sebagai warga bangsa berdaulat.

Bambang juga mengamati pakaian yang dikenakan masyarakat perkotaan saat Lebaran pertama pada era republik itu. Pakaian mereka terlihat jauh lebih baik dibandingkan pada masa pendudukan Jepang. Tak ada yangmengenakan pakaian dari karung goni atau karet. Mereka hilir-mudik di jalan-jalan kota, menikmati suasana Lebaran yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di Jakarta, banyak orang mengunjungi Taman Raden Saleh yang selama Lebaran dibuka untuk umum sonder biaya.

Menarik, Koran Asia Raya, alat propaganda utama imperialisme Jepang di Indonesia, mengakhiri penerbitannya pada Jumat Pahing, 7 September 2605 (1945), atau persis sehari menjelang Idul fitri. Selain berpamitan, pada edisi penghabisan yang hanya terbit satu lembar itu, jajaran redaksi juga menyampaikan permohonan maaf kepada para pembaca. Dari 20 artikel dan berita, separuh di antaranya berkait dengan penghentian penerbitan dan Idul Fitri.
Dokumentasi mengenai aktivitas para pemimpin saat Lebaran pertama pad

a masa republik juga sangat minim. Bagaimana Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan lain-lain merayakan hari kemenangan? Apakah mereka juga melaksanakan salat Idul fitri di Lapangan Ikada? Adakah tokoh-tokoh itu mengadakan open house? Semuanya belum terungkap secara jelas. Sukarno baru tampil di hadapan publik saat rapat akbar di Lapangan Ikada pada 19 September 1945, atau bertepatan dengan 12 Syawal 1364 Hijriah. Dia tampil dipodium untuk menenangkan massa yang marah akibat rencana kedatangan tentara Sekutu dan Belanda. Di depan ribuan orang yang menyemut, dan di bawah pengawasan ketat serdadu Jepang, Sukarno berorasi singkat: “Saudara-saudara, kita akan terus mempertahankan proklamasi kita. Tidak ada satu katapun yang akan dilewatkan.”

Beberapa pekan kemudian, tentara Sekutu yang diikuti tentara NICA tiba di Indonesia untuk mengambil alih kekuasaan dari Jepang yang telah mereka kalahkan. Tahun-tahun berikutnya, Lebaran dirayakan dalam suasana darurat dan penuh pergolakan. Selain menghadapi ancaman Sekutu dan Nica, di kalangan kaum republik juga terjadi pertentangan antarkelompok terkait strategi mempertahankan kemerdekaan.
Pada 1946, sejumlah tokoh melobi Sukarno agar memanfaatkan momentum Idul Fitri tahun itu yang jatuh pada bulan Agustus untuk mendamaikan kelompok-kelompok berseteru. Sukarno setuju dan mengundang mereka untuk merayakan Lebaran bersama dan saling memaafkan.

Situasi Lebaran yang lebih mencekam terjadi saat pemerintahan Republik Indonesia harus pindah ke Yogyakarta. Di Ibu Kota baru itu, Sukarno, Hatta, Jenderal Sudirman, dan Sultan Hamengku Buwono IX bersembahyang dua rakaat di alun-alun. Foto dokumentasi IPPHOS menunjukkan pakaian mereka yang meski berupa stelan jas, tapi terlihat kumal dan lusuh tak disetrika. Mereka merayakan hari raya dalam situasi tertekan menghadapi agresi militer Belanda yang ingin mengembalikan kekuasannya di Indonesia.

Perayaan Idul fitri relatif lebih bebas, pasca penyerahan kedaulatan RI oleh Belanda pada 27 Desember 1949. Sejak itu Ibu kota negara dikembalikan ke Jakarta. Shalat Idul Fitri tahun 1950 dipusatkan di Lapangan Banteng yang di tengahnya telah berdiri monumen pembebasan Irian Barat. Foto di harian Suara Merdeka edisi 20 Juli 1950 menunjukkan Sukarno dengan pakaian kebesarannya, berdiri di atas mimbar untuk menyampaikan amanat Idul fitri kepada ribuan muslim yang hadir. Sebagai orator sejati, Sukarno menggunakan mimbar shalat Id untuk menyerukan gagasan-gagasan politiknya yang besar, seperti pembebasan Irian Barat dan kampanye ganyang Malaysia.

Tahun 1961, di tengah perekonomian negara yang kurang baik, Sukarno berencana membangun masjid Istiqlal di taman Wijayakusuma. Dia seperti tidak peka terhadap kondisi sebagian besar rakyatnya yang masih hidup dalam kemiskinan. Dalam Sebelum Prahara: Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965, Rosihan Anwar seperti dikutip Achmad Sunjayadi, menceritakan pengalaman saat Idul fitri 1961. Ketika hendak salat Idul fitri di Kebayoran Baru, wartawan tiga zaman itu melihat banyak becak yang dihiasi kulit ketupat. Awalnya ia menganggap upaya abang becak sebagai gerakan spontan menyambut Lebaran. Namun, dari penuturan seorang sopir jip, kulit-kulit ketupat itu dibuang di pasar-pasar karena tak habis terjual. Mengapa dibuang? Sopir jip menjawab karena tidak ada isinya. Beras yang seharusnya menjadi isi ketupat ternyata tak mampu terbeli oleh rakyat karena harganya sudah sampai 14 rupiah per liter.

Pada tahun berikutnya, situasi tidak berubah. Menurut Rosihan, menjelang Lebaran 1962, harga-harga di Jakarta melonjak. Sayur mayur dan bumbu dapur melonjak 100 hingga 150 persen.Begitu pula harga tepung terigu, minyak goreng, dan gula pasir. Anehnya, barang-barang itu belum tentu tersedia. Pada masa itu, di pinggiran Jakarta dikenal istilah “kambing barter”. Di sana penduduk dapat menukar seekor kambing dengan 20 liter beras, atau seekor ayam dengan 3 sampai 4 liter beras. Rupanya, kenaikan harga barang kebutuhan pokok menjelang Lebaran terus terjadi dan berulang, bahkan pada zaman relatif normal seperti sekarang.

 Penulis : Rukardi Achmadi – Koordinator Komunitas Penggiat Sejarah (KPS) Semarang.

Previous Pidato Anies Baswedan - Hari Pendidikan Nasional 2016
Next Lebaran Muram Pemimpin Perang Jawa - penangkapan Diponegoro

You might also like

Komunitas 0 Comments

Eksistensi “Divisi Tiang Salatiga” – Komunitas Skateboard Salatiga

  Berbicara mengenai komunitas yang ada di Salatiga banyak sekali komunitas yang bermunculan tiap tahunnya, namun cukup banyak juga yang tidak bertahan lama karena berbagai macam alasan. Dalam artikel ini

Berita 0 Comments

Aksi Demonstrasi Siswa SMA N 2 SALATIGA

Demokrasi, setiap warga negara berhak untuk menyuarakan aspirasinya, begitu pula yang terjadi di SMA Negeri 2 Salatiga. Senin, 15 Oktober 2012 siswa SMA Negeri 2 Salatiga menggelar aksi demo yang

Artikel 0 Comments

Kopeng Treetop – New Sensation Nature’s Adventures

Salatiga, kota yang terletak di kaki Gunung Merbabu ini memiliki udara dingin dan sejuk. Bila kita berjalan naik menuju gunung merbabu, kita akan menjumpai daerah yang mungkin sudah tidak asing

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image