Jusuf Ronodipuro : Inisiator Perekaman Suara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Indonesia saat ini memasuki umur yang ke 71, hari kemerdekaan ini diperingati oleh masyarakat Indonesia dengan berbagai macam cara.

Untuk merayakan hari kemerdekaan RI ke-71 kita akan mengulas peristiwa yang berkaitan dengan Pahlawan asal Kota Salatiga yang pernah ditulis sebelumnya dalam artikel “Pahlawan asal Salatiga, Penyambung Lidah Bung Karno”. Untuk itu ada baiknya para pembaca memahami perisitiwa yang telah ditulis sebelumnya, klik untuk membuka artikel.

Yusuf Ronodipuro

Tokoh kelahiran Salatiga tersebut bernama Yusuf Ronodipuro, beliau adalah orang yang pertama kali membacakan teks proklamasi di corong radio yang akhirnya tersiar ke seluruh penjuru negeri ketika dirinya berumur 26 tahun.

Dia membacakan proklamasi pada jam 7 malam tanggal 17 Agustus 1945 di kantor radio Hoso Kyoku, 9 jam setelah pembacaan teks proklamasi yang dilakukan oleh Bung Karno di Pegangsaan Timur. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa pada hari proklamasi tersebut baru pada jam 7 malam masyarakat indonesia mendengar kemerdekaan Indonesia melalui radio dan  yang didengar adalah suara Yusuf Ronodipuro, buka suara Bung Karno.

Setelah membacakan teks proklamasi tersebut, kegiatannya diketahui oleh tentara Jepang dan pada akhirnya beliau diseret dan dipukuli. Keesokan harinya, Jusuf Ronodipuro berniat memeriksakan keadaan tubuhnya setelah mengalami siksaan oleh tentara Jepang ke dokter Abdulrahman Saleh yang sering disapa dokter Karbol dan kini juga dikenal dengan bapak ilmu fisiologi Indonesia.

Dokter Abdurahman saleh

Dokter Abdurahman saleh – wikipedia

Dari cerita yang diungkapkan oleh Yusuf Ronodipuro pada sebuah program acara bernama History of “The Voice of Free Indonesia” yang disiarkan RRI pada tahun 2006, ketika dokter Abulrahman Saleh memeriksa kondisi tubuhnya, dirinya mulai menceritakan pengalamannya yang membacakan teks proklamasi dan disiksa oleh tentara Jepang, hingga pada akhirnya dilakukan penutupan stasiun radio oleh militer Jepang.

Pada saat mendengar hal tersebut dokter Abdulrahman Saleh terdiam sejenak dan berkata “kalau begitu, kita dirikan radio sendiri.” Ketika itulah ia mengumpulkan berbagai macam peralatan dan perlengkapan untuk membuat radio, dan Yusuf Ronodipuro mengumpulkan teman-temannya yang merupakan tehnisi.

Pada akhirnya oleh karena ide kedua tokoh tersebut Indonesia memiliki radio sendiri bernama “Radio Indonesia Merdeka” yang menggunakan ruangan laboratorium fisiologi, fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Radio ini selesai pengerjaannya dan mulai bisa digunakan pertama kali pada tanggal 23 Agustus 1945. Pada awal berdirinya radio tersebut, terdapat cerita menarik dari sosok tokoh Yusuf Ronodipuro yang pertama kali menyapa masyarakat Indonesia melalui radio tersebut.

Kata-kata pertama Yusuf Ronodipuro ketika radio tersebut untuk pertama kalinya on-air adalah “Para pendengar, disini Jakarta suara Indonesia Merdeka” dan seketika itulah dirinya berlinangan air mata karena rasa bangganya menjadi seorang Indonesia.

Tidak direkam saat proklamasi kemerdekaan 1945

Di radio ini juga masyarakat Indonesia untuk pertama kalinya mendengar secara langsung pidato dan amanat Bung Karno sebagai seorang presiden tanggal 25 Agustus 1945, kemudian pada tanggal 29 September 1945 di tempat yang sama pula wakil presiden Moh. Hatta juga berpidato.

Yusuf Ronodipuro dan keluarga

Yusuf Ronodipuro (duduk di tengah) bersama keluarga – Youtube

Hampir semua masyarakat Indonesia pernah mendengar rekaman suara bung karno membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, dan tidak sedikit yang menganggap bahwa suara tersebut adalah rekaman suara Bung Karno langsung pada saat pembacaan teks Proklamasi di Pegangsaan Timur pada 17 Agustus 1945 yang bisa kita dengarkan di bawah ini:

Rekaman suara Bung Karno ini sebenarnya direkam pada tahun 1951 oleh Yusuf Ronodipuro yang berawal dari kunjungannya ke Istana negara saat bertemu dengan bung Karno, ketika dirinya menjadi Kepala sekaligus pendiri Radio Republik Indonesia (RRI).

Dalam kesempatan tersebut Yusuf Ronodipuro meminta bung Karno untuk mengulang membacakan teks proklamasi yang kemudian akan direkam oleh dirinya sebagai bukti kepada generasi selanjutnya bahwa proklamasi memang benar-benar dibacakan oleh Bung Karno, namun Bung Karno marah dan menolak karena dirinya berprinsip bahwa proklamasi itu hanya sekali terjadi, dan tidak dapat diulang kembali.

Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, Ini adalah kali kedua bung Karno diminta mengulang pembacaan teks proklamasi. Permintaan yang pertama ketika tanggal 17 Agustus 1945 setelah pembacaan teks proklamasi selesai di Pegangsaan Timur, ada beberapa pemuda yang datang terlambat sehingga mereka tidak secara langsung mendengarnya.

oleh karena itu pemuda-pemuda tersebut menghadap Bung Karno dan memintanya untuk mengulang membacakannya, namun bung Karno menolak seperti apa yang dikatakan oleh Yusuf Ronodipuro.

Yusuf ronodipuro dan Soekarno

M Jusuf Ronodipuro (berdiri paling kiri berdasi kupu-kupu) saat berfoto bersama Presiden Soekarno. (Dok Keluarga) – CNN Indonesia

Dalam permintaan yang dilakukan oleh Yusuf Ronodipuro, Bung Karno  tetap keras menolak. Namun setelah diberikan pengertian-pengertian oleh Yusuf Ronodipuro yang menganggap sangat penting suara Bung Karno untuk direkam, sehingga dapat di dengar oleh masyarakat di seluruh Indonesia dan juga dapat menjadi bukti bahwa proklamasi disampaikan dengan suara oleh Bung Karno ke generasi selanjutnya.

Memahami apa yang diutarakan oleh Yusuf Ronodipuro, pada akhirnya Bung Karno menyetujui perekaman suara tersebut yang dilakukan pada tahun 1951, namun tidak ditemukan kapan tepatnya perekaman itu terjadi.

Melalui fakta-fakta sejarah ini kita dapat mengetahui bagaimana peristiwa seputar proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi. Melalui fakta tersebut juga kita mengetahui bagaimana peran putra kelahiran Salatiga ini memberikan kontribusi yang penting kepada bangsa Indonesia.

Di hari kemerdekaan Indonesia yang ke-71 ini kita dapat merefleksikan berbagai macam peristiwa bersejarah yang dapat memberikan petunjuk bahwa memiliki inisiatif untuk berkontribusi secara langsung pada kemajuan suatu bangsa sangatlah penting bagi setiap masyarakat Indonesia.

Karena melalui hal tersebut setiap permasalah yang terjadi di dalam masyarakat akan lebih mudah untuk diselesaikan tanpa menunggu peran aktif pemerintah. Sekecil apapun kontribusi kita dalam masyarakat akan sangat membantu penyelesaian berbagai macam masalah yang terjadi di negara ini. Untuk itu sebagai seorang Indonesia peran aktif kita dalam masyarakat sangat dibutuhkan demi kemajuan tanah air kita.

Selamat Ulang Tahun Indonesiaku ke-71.

 Penulis : Abel  Jatayu P – “Tengok dan Sapalah Sejarah juga Budaya Bangsamu, maka akan kita lihat Bangkitnya Negeri ini.”

Previous Gunung Merbabu tujuan Hiking For Charity 2016
Next SMA Kr SATYA WACANA Salatiga Juara Baru “DBL” North Region, Central Java Series

You might also like

Komunitas 0 Comments

Eksistensi “Divisi Tiang Salatiga” – Komunitas Skateboard Salatiga

  Berbicara mengenai komunitas yang ada di Salatiga banyak sekali komunitas yang bermunculan tiap tahunnya, namun cukup banyak juga yang tidak bertahan lama karena berbagai macam alasan. Dalam artikel ini

Artikel 0 Comments

LGBT masa Kolonial : Operasi penyisiran hingga ke Salatiga

Pada 1938, Residen Batavia, Fievez de Malinez tertangkap basah tengah berbuat cabul dengan seorang lelaki muda bumiputera di sebuah hotel Tionghoa di Bandung. Peristiwa itu tak hanya menghebohkan, tapi juga

Artikel 0 Comments

10 Alasan Kenapa Kota Salatiga menjadi Kota Idaman

Kota Salatiga, kota dengan seribu pesona. Apa yang pertama kali muncul dibenak anda ketika mendengar nama Kota Salatiga? Pasti banyak yang nyeletuk dan bilang “Kenapa ga salah empat atau lima?”

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image