Kebudayaan indis di Salatiga

Kebudayaan yang Hilang ini adalah Sebuah Kebudayaan yang tercipta karena proses akulutrasi yang disebut Kebudayaan Indis. Kebudayaan Indis ini pernah ada dan berlangsung di Salatiga selama beberapa waktu ketika Pemerintahan Kolonial masih menduduki Salatiga. Kebudayaan indis adalah kebudayaan yang ada karena percampuran kebudayaan bangsa belanda dan Kebudayaan Masyarakat Pribumi Jawa. Sebelum terjadi Percampuran budaya ini, peradaban Indonesia sudah Tinggi, maka peran suku Jawa dalam proses percampuran ini adalah aktif sehingga budaya masyarakat jawa tidak lenyap tenggelam.

Bangunan bersejarah salatiga

Salah satu faktor yang mengakibatkan hilangnya Kebudayaan ini adalah masyarakat pendukung kebudayaan yang telah hilang setelah masuknya Jepang ke Nusantara pada tahun 1942. Masyarakat pendukung ini adalah orang-orang eropa dengan masyarakat pribumi di Salatiga, karena pada tahun 1942 Jepang masuk dan menguasai jawa maka saat itulah peran Belanda sebagai penguasa jawa beralih ke tangan Jepang disertai dengan hilangnya peran orang-orang Belanda sebagai masyarakat pendukung kebudayaan Indis, dan meredupnya eksistensi kebudayaan Indis di Pulau Jawa. Salatiga adalah sebuah kota kecil yang terdapat di Provinsi jawa tengah. Pada masa Pemerintahan Kolonial, Salatiga dikenal sebagai kota wisata dan tempat untuk bersantai bagi orang-orang eropa, karena udara yang sejuk dan keamanan yg terjamin bagi orang-orang Eropa.  Pada tanggal 25 Juni 1917 Gubernur jenderal hindia Belanda menetapkan berdirinya Gemeente(Kota) Salatiga melalui Staatblad 1917 No.266. Pada masa Pemerintahan Kolonial, Salatiga memiliki masyarakat yang multikultur karena tidak hanya orang Pribumi saja yang tinggal di Salatiga tetapi terdapat juga Orang-orang eropa dan Orang-orang Cina. Salatiga dipilih untuk ditinggali oleh orang-orang eropa karena udaranya yang sejuk, telah menjadi kota militer Belanda, dan pemerintahan telah dipegang oleh pemerintah kolonial sehingga orang-orang eropa merasa aman dan nyaman tinggal di Salatiga.

Keberlangsungan kehidupan bangsa Eropa di Salatiga yang cukup lama ini pastinya memunculkan interaksi-interaksi dengan masyarakat pribumi dan juga penyesuaian terhadap keadaan iklim tropis di pulau jawa yang berbeda dengan iklim di Negeri Belanda. Interaksi-interaksi dan Penyesuaian yang aktif antara masyarakat Pribumi dan orang-orang Belanda inilah yang nantinya akan menghasilkan kebudayaan Indis. Kebudayaan Indis berpengaruh pada beberapa unsur kehidupan masyarakat, dari arsitektur bangunan hingga pakaian yang dikenakan masyarakat ketika itu. Pada artikel ini kita akan menggali dan menyaksikan sisa-sisa peninggalan kebudayaan Indis yang pernah ada di Salatiga khususnya melalui bangunan Rumah Dinas Assisten Residen Belanda yang saat ini menjadi Rumah Dinas Wali Kota Salatiga.

Bangunan bersejarah salatiga

Pada awal kedatangan Belanda di Jawa rumah tempat tinggal orang eropa di dalam kastil Batavia memiliki susunan yang secara umum mirip dengan yang terdapat di negeri asalnya. Bangunan rumah belanda awalnya sangat terikat dengan cirri-ciri nasionalis Belanda. Ketika orang-orang eropa mulai keluar dari lingkup kastil dan mereka mengenal dunia pribumi jawa, lambat laun dalam pembangunan rumah terjadi percampuran antara tipe rumah Belanda dengan Pribumi Jawa. Sebagai hasil akhir berdirilah rumah-rumah bangunan gaya indis dalam abad ke-18 samapi runtuhnya pemerintahan Belanda saat kedatangan Jepang tahun 1942.

Salah satu contoh tipe bangunan bergaya indis di Salatiga adalah rumah dinas Assisten resident Belanda yang saat ini digunakan sebagai Rumah Dinas Walikota Salatiga. Rumah yang dibangun pada masa Pemerintahan kolonial ini memiliki cirri-ciri rumah tipe bangunan Indis. Dalam Membangun orang-orang Eropa memperhatikan kesehatan dengan menyesuaikan diri dengan alam pulau jawa, untuk melindungi diri dari panas, tembok-tembok dibuat tinggi dan tebal, Rumah ini juga memiliki telundak (teras) yang lebar di depan rumah. Telundak tersebut pada masa lalu berfungsi sebagai hubungan antar tetangga yang memiliki artisosial penting, pada saat sore atau malam hari telundak yang telah diletakkan beberapa perabotan kursi dan meja tersebut digunakan untuk bersantai, berkumpulnya keluarga atau bertemu dengan tetangga. Selain memiliki telundak sebagai salah satu cirri bangunan Indis, Rumah ini juga memiliki atap rumah yang luasnya berlebihan dari bangunan utama pada bagian muka rumah, hal ini bertujuan untuk membuat rumah menjadi teduh, melindungi dari sinar matahari yang menyengat yang disesuaikan dengan iklim di Indonesia. Lebar dan tingginya jendela dan pintu bangunan bukan karena orang-orang Eropa yang Tinggi namun dimaksudkan agar sirkulasi Udara di dalam rumah dapat berjalan dengan baik. Arsitektur rumah ini berbentuk rumah Joglo Jawa yang sudah bercampur dengan tipe bangunan eropa saat itu. Unsur utama kehidupan seni bangunan jawa adalah adanya keharmonisan dengan alam sekeliling(Djoko Soekiman, januari 2000).

kantor walikota salatiga

Lokasi Bangunan dan ornamen hias bangunan pada Pintu dan Jendela juga muka bangunan merupakan symbol kebesaran. Lokasi Rumah Asissten residen ini berada di pusat kota Salatiga yang sangat strategis, hal ini disebabkan karena Asissten residen berkedudukan sebagai kepala daerah Salatiga. Arsitektur Bangunan Indis juga dipengaruhi oleh fungsi bangunan pada zamannya. Rumah Dinas Asissten resident ini selain difungsikan untuk rumah tinggal juga difungsikan sebagai kantor Pemerintahan Salatiga sehingga selain memiliki bangunan utama untuk rumah tinggal, pada bagian kiri terdapat bangunan lain yang digunakan sebagai kantor pemerintahan yang memiliki bangunan lebih besar. Dalam Kebudayaan Indis Pengaruh Belanda berhasil memperkuat dan memberi alat untuk menanggulangi kekuarangan-kekurangan membangun rumah masyarakat jawa. Namun pada sisi lain masyarakat jawa berperan dalam memberikan gambaran pada masyarakat eropa yang akan membangun rumah tinggal agar sesuai dan tepat dengan keadaan lingkungan jawa masa itu. Kesimpulan:Inilah Bukti pernah berlangsung sebuah kebudayaan campuran yang disebut Kebudayaan Indis di Salatiga, dari sebuah bangunan kita dapat melihat peradaban yang berlangsung pada masa lalu. Bangunan-bangunan gaya indis yang memiliki nilai historis, arkeologis, dan estetis yang mewakili zamannya, patut dilestarikan, diteliti, dan diselamatkan. Seni bangunan indis memperkaya keindahan kota-kota di Indonesia. Bangunan-bangunan seperti ini adalah jati diri bangsa kita, dan dari keanekaragaman bangunan pada masa pemerintahan kolonial yang masih tersisa hingga bangunan-bangunan saat ini, kita dapat melihat perkembangan sebuah kota dari masa ke masa.

Oleh: Abel jatayu Prakosa

“Tengok dan Sapalah Sejarah juga Budaya bangsamu, maka akan kita lihat bangkitnya negri ini”

(Abel Jatayu P)

Dikutip dari : Kampoeng Salatiga ( sumber )

Previous Kopeng Treetop - New Sensation Nature’s Adventures
Next Peradaban Kota Salatiga

You might also like

Artikel 0 Comments

Lebaran Muram Pemimpin Perang Jawa – penangkapan Diponegoro

BANYAK orang mafhum ihwal penangkapan Diponegoro. Peristiwa yang menjadi penanda akhir Perang Jawa (1825-1830) itu demikian masyhur lantaran kerap diajarkan oleh guru-guru sejarah di ruang kelas. Meski demikian, banyak yang

Artikel 0 Comments

51 tahun Gugurnya Komodor Yos Sudarso – 15 Januari (1962 – 2013)

51 tahun sudah Yos Sudarso gugur dalam medan pertempuran di laut Aru, dia menyangkal takdir ‘manusia sebagai makhluk Cipataan Tuhan yang dari tanah akan kembali ke tanah’, karena hingga kini

Artikel 0 Comments

R.A Soematri – Keluarga RA Kartini di Salatiga

Dalam seminar-seminar, diskusi-diskusi juga artikel dan buku-buku literatur yang mengulas tentang Kartini, yang terbit menjelang diperingatinya Hari kartini setiap tanggal 21 April sudah begitu Banyak. Dalam perkembangan penelitian tentang Kartini

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image