LGBT masa Kolonial : Operasi penyisiran hingga ke Salatiga

LGBT masa kolonial

Skandal tahun 1920 . Sumber

Pada 1938, Residen Batavia, Fievez de Malinez tertangkap basah tengah berbuat cabul dengan seorang lelaki muda bumiputera di sebuah hotel Tionghoa di Bandung. Peristiwa itu tak hanya menghebohkan, tapi juga dianggap menampar muka pemerintah kolonial. Dengan landasan Wetboek van Strafrecht atau kitab undang-undang hukum pidana yang menganggap praktik homoseksual sebagai tindakan kriminal, aparat pemerintah kemudian melakukan operasi besar-besaran di Batavia, Bandung, Cianjur, Cirebon, Semarang, Salatiga, Magelang, Yogyakarta, Malang, Pamekasan, Medan, Padang, Palembang, Makassar, dan sejumlah kota lain di Hindia Belanda. Orang-orang yang terindikasi gay dan biseksual, diamankan. (JC Bijkerk, Vaarwel, Tot Betere Tijden: Documentaacie de ondergang van Nederlandsch-Indie, 1974, sebagaimana dikutip Amen Budiman dalam pengantar buku Gay Pilihan Jalan Hidupku: Pengakuan Seorang Priyayi Jawa Zaman Penjajahan Belanda, Semarang: Penerbit Mimbar, 2008)

Meski operasi dilakukan secara sistematis dan masif, tak urung ada yang lolos juga. Salah satunya Sutjipto, lelaki keturunan priyayi dari Jawa Timur. Suatu ketika, Sutjipto yang lahir pada 1910, menuliskan kisah hidupnya sebagai gay. Bertahun-tahun kemudian, tulisan itu menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta dengan kode ML 512 dan ML 524 di seksi Kategori Manuskrip Melayu, berdasarkan katalogisasi Indonesische Handschriften yang disusun Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka. Naskah setebal 460 halaman berjudul asli “Djalan Sampoerna” itu kali pertama ditemukan oleh Ulrich Kratz, seorang peneliti sastra dari University of London pada 1970-an. Tahun 1989, naskah berbahasa Melayu Pasar dan Jawa Timuran tersebut kemudian ditulis ulang oleh Amen Budiman menggunakan ejaan yang disempurnakan. Amen mengubah judulnya menjadi “Gay Pilihan Jalan Hidupku: Pengakuan Seorang Priyayi Jawa Zaman Penjajahan Belanda”.

Gay Pilihan Jalan Hidupku

Amen Budiman : Gay Pilihan Jalan Hidupku. 1992

Tahun 1992, naskah suntingan Amen diterbitkan oleh Penerbitan Apresiasi Gay Jakarta. Namun tak lama kemudian, upaya itu berbuah pelarangan oleh Kejaksaan. Naskah Soetjipto dianggap melanggar kesusilaan. Pasca-Reformasi, “Gay Pilihan Jalan Hidupku” diterbitkan ulang oleh penerbit Mimbar, Semarang. Lepas dari kontroversi, naskah Sutjipto punya nilai penting bagi kajian sejarah sosial di Indonesia. Naskah itu disebut-sebut sebagai biografi homoseksual pertama di Nusantara. Naskah langka itu menggambarkan secara detail seluk beluk kehidupan homoseksual, khususnya gay dan biseksual, di Indonesia pada masa kolonial. Saat itu kaum homoseksual tidak hanya berasal dari kalangan Belanda atau Eropa, namun juga bumiputera, Tionghoa, dan Arab. Mereka yang memiliki keragaman profesi, menjalani kehidupan homoseksual secara sembunyi-sembunyi, menghindari sorot mata masyarakat.

Salah satu pola hubungan homoseksual yang lazim dipraktikkan saat itu adalah antara pria Eropa dewasa dengan lelaki remaja bumiputera. Si pria Eropa biasanya punya kehidupan mapan, memiliki pekerjaan dengan gaji lumayan besar. Ada yang pejabat, pegawai pemerintah, dokter, pegawai perkebunan, polisi, tentara, kepala kantor, dan lain-lain. Adapun sang remaja bumiputera lazimnya menggantungkan hidup pada pasangan Eropanya. Mereka ada yang bekerja sebagai kacung dan tinggal bersama di rumahnya, ada juga yang menjadi bawahan di perusahaan tempat pasangan bekerja. Sutjipto pernah tiga kali menjalin hubungan dengan lelaki Belanda. Dua kali dalam posisi sebagai kacung, sekali sebagai bawahan di kantor ANIEM (perusahaan listrik negara). Sementara, pasangan gay sesama bumiputera adakalanya memiliki strata sosial yang sama. Sebagai gambaran adalah hubungan antara Sutjipto dengan cinta pertamanya, seorang siswa HIS di Situbondo. Juga relasi asmaranya dengan Sukran, jongos Hotel Peng An Can di Surabaya.

Naskah Sutjipto cocok dibaca di tengah kegaduhan ihwal LGBT* belakangan ini.

 Penulis : Rukardi Achmadi – Koordinator Komunitas Penggiat Sejarah (KPS) Semarang.

 

 

 

 

Previous Salatiga Tertawa
Next Festival Mata Air 2016

You might also like

Artikel 0 Comments

Pelestarian Arsitektur dan Tata Ruang Kota Salatiga

Gambar: Pusat Kota Kolonial, Kota Salatiga (Bundaran Ramayana) Setiap kota pastinya memiliki jati diri dan karakteristik kotanya masing-masing. Namun dalam perkembangannya, makin lama banyak kota yang sulit dibedakan satu dengan

Sejarah 0 Comments

Kebudayaan indis di Salatiga

Kebudayaan yang Hilang ini adalah Sebuah Kebudayaan yang tercipta karena proses akulutrasi yang disebut Kebudayaan Indis. Kebudayaan Indis ini pernah ada dan berlangsung di Salatiga selama beberapa waktu ketika Pemerintahan

Sejarah 0 Comments

Pahlawan dari Salatiga, Adisutjipto

          Kalau Adisutjipto tidak nekat menerbangkan pesawat bobrok peninggalan Jepang, entah apa nasib Angkatan Udara Republik Indonesia. Adisutjipto adalah orang yang merintis penerbangan AURI, membangun sekolah penerbang dan melakukan

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image