Membongkar Konspirasi Perayaan 4 Abad VOC dan Peringatan Kolonial Sentiling (Bag 1)

Tahun 2002, pada sepanjang tahun tersebut, Belanda memperingati dan merayakan “4 Abad VOC” dengan berbagai event di seluruh negeri itu.

Belasan tahun kemudian, bertepatan usia satu abad peristiwa Koloniale Tentoonstelling di Semarang, melalui agen-agen kebudayaannya di Indonesia (Semarang) mulai ada penyusupan agenda peringatan Koloniale Tentoonsteling (lidah orang Semarang menyebutnya Kolonial Sentiling) ke dalam acara “Festival Kota Lama”.

koloniale-tentoonstelling-te-semarang

Kolonial Sentiling merupakan sebuah event peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis yang diadakan di tanah jajahannya (Hindia Belanda/Nusantara/Indonesia) yang gagasannya pernah ditentang perintis kemerdekaan Soewardi Soerjaningrat. Pada tahun 2014 (tanggal 19-21 September) di Kawasan Kota Semarang diadakan Festival Kota Lama mengangkat tema Napak Tilas 100 Tahun Koloniale Tentoonstelling 1914, itu merupakan Festival Kota Lama tahun ketiga yang sekaligus untuk memperingati sebuah perhelatan akbar di era kolonial Belanda bernama Tentoonstelling.

Bagi lidah masyarakat Jawa (Semarang) kata tentoonstelling memang relatif sulit diucapkan, lebih suka melafalkan menjadi sentiling, kemudian lebih populer disebut Pasar Malam Sentiling.

Ide perayaan Kolonial Sentiling adalah ide yang pernah diprotes Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (tahun 1922 berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara). Pada waktu Pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari  warga (termasuk pribumi) untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis  pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk dari Soewardi Soejaningrat.

Soewardi kemudian menulis “Een voor Allen maar Ook Allen  voor Een” (“Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”), namun kolom Soewardi yang paling terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda”  (judul asli: “Als ik een Nederlander was”), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker, 13 Juli 1913.

Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut:

“Sekiranya aku seorang Belanda,  aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang  telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran  itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan  sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan  itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya.  Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang  Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan  sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya.”

Akibat tulisan itu, Soeeardi yang kala itu berusia 24 tahun ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo,  memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913).  Ketiga tokoh ini dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Pages: 1 2 3 4 5

Previous September Ceria
Next Sejarah Baru Drumblek Salatiga

You might also like

Seni dan Budaya 0 Comments

DRUMBLEK Salah Satu Aset Kesenian Kota SALATIGA

Para penabuh dengan beberapa atribut khasnya, memainkan musik dengan media tong bekas. Mereka memainkan musik secara berkelompok dengan berbaris layaknya sebuah kelompok Marching Band. Kita bisa menjumpai musik ini di

Pendidikan 0 Comments

Aksi Demonstrasi Siswa SMA N 2 SALATIGA

Demokrasi, setiap warga negara berhak untuk menyuarakan aspirasinya, begitu pula yang terjadi di SMA Negeri 2 Salatiga. Senin, 15 Oktober 2012 siswa SMA Negeri 2 Salatiga menggelar aksi demo yang

Sejarah 0 Comments

85 Tahun Sumpah Pemuda – Terperangkap dalam Zona Nyaman Globalisasi

Tanggal 28 Oktober sangat erat kaitannya dengan Pemuda Indonesia.  85 tahun silam pada  tanggal dan bulan tersebut terjadi sebuah peristiwa yang membakar rasa persatuan pemuda bangsa sebagai satu Bangsa, dimana

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image