Membongkar Konspirasi Perayaan 4 Abad VOC dan Peringatan Kolonial Sentiling (Bag 1)

Cukup mengherankan Pemerintah Kota Semarang beberapa tahun belakangan ini justru mau memfasilitasi penyusupan event  yang gagasannya pernah diprotes Soewardi Soerjaningrat itu, yang kita tahu beliau adalah seorang tokoh perintis kemerdekaan sekaligus Bapak Pendidikan RI ini.

Rasanya agak risih, kenapa yang diperingati bukan gagasan “Soewardi Soerjaningrat Kontra Kolonial Sentiling”, tetapi malah event Pasar Malam Sentiling-nya. Hingga tahun ini, event yang nyata-nyata berlabel Pasar Malam Sentling ini masih difasilitasi Pemerintah Semarang, event berlangsung pada tanggal 16-18 September 2016 dengan mengambil tema Kuno,Kini, Nanti.

Terus terang ini agak mengganggu, sebab ibarat Bung Karno itu ditangkap dan dibuang ke Endeh oleh penguasa kolonial Belanda, harusnya yang diperingati adalah gagasan-gagasan dan kiprah Bung Karno selama jadi tawanan melawan kolonialismenya, tapi kok malah memeringati kesuksesan penguasa kolonial menawan Bung Karno, itu kan terbalik.

Saat peringatan Pasar Malam Sentiling tahun 2014 saya gencar menyindir Pemerintah Kota Semarang dan rekan-rekan penyelenggara yang terlibat di media sosial yang memfasilitasi peringatan Sentiling itu. Rupanya terjadi perdebatan juga di antara saya teman-teman saya sendiri yang kontra dengan pendapat saya.

Tahun lalu kembali diadakan  Festival Kota Lama Semarang 2015, merupakan penyelenggaraan tahun ke-4. Festival ini kembali mengangkat tema Sentiling. Sebagaimana sebelumnya, Festival Kota Lama 2015 ini sebenarnya dimaksudkan menjadi salah satu dari upaya menghidupkan kawasan Kota Lama  Semarang agar dapat diakui dunia internasional menjadi kota warisan dunia  (world heritage city) di tahun 2020 nanti.

World heritage diartikan sebagai  warisan alam maupun budaya peninggalan masa lalu agar terus hidup  menjadi inspirasi bagi generasi masa kini dan generasi masa depan.  Seperti tahun 2014, format acara Festival Kota Lama 2015  berupa pasar malam, yang populer disebut sebagai Pasar Sentiling. Pasar Sentiling 2015 diselenggarakan selama 2 hari yakni  tanggal 19–20 September 2015, menempati lokasi di sekitar Gereja Blenduk dan Taman Srigunting di kawasan Kota Lama Semarang.

Format acaranya tidak jauh berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya, berupa pagelaran musik, pasar klithikan, kampung batik, kuliner paradeplein (parade kuliner), dan kampung akik.

Lama-lama saya bertanya, apa kepentingan Belanda melalui agen kebudayaannya di Indonesia (Semarang) menyusupkan agenda Kolonial Sentiling, dan bagaimana mungkin Pemerintah Kota Semarang (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dll) memfasilitasinya.

Pages: 1 2 3 4 5

Previous September Ceria
Next Sejarah Baru Drumblek Salatiga

You might also like

Artikel 0 Comments

Lebaran Muram Pemimpin Perang Jawa – penangkapan Diponegoro

BANYAK orang mafhum ihwal penangkapan Diponegoro. Peristiwa yang menjadi penanda akhir Perang Jawa (1825-1830) itu demikian masyhur lantaran kerap diajarkan oleh guru-guru sejarah di ruang kelas. Meski demikian, banyak yang

Artikel 0 Comments

The Power of “Lungguh” (F.A Brian Ganda Pratama)

Sudah asik dan tergantung dengan tekhnologi ciptaan negara Tetangga? sehingga kosakata kita saat ini makin dipenuhi oleh kosakata bahasa asing dari berbagai macam merek tekhnologi yang kita gunakan saat ini?.

Pendidikan 0 Comments

Aksi Demonstrasi Siswa SMA N 2 SALATIGA

Demokrasi, setiap warga negara berhak untuk menyuarakan aspirasinya, begitu pula yang terjadi di SMA Negeri 2 Salatiga. Senin, 15 Oktober 2012 siswa SMA Negeri 2 Salatiga menggelar aksi demo yang

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image