Membongkar Konspirasi Perayaan 4 Abad VOC dan Peringatan Kolonial Sentiling (Bag 1)

Saya menjadi teringat kejadian pada belasan tahun lalu di mana Pemerintah Indonesia didesak memrotes penyelenggaraan “Perayaan 4 Abad VOC” yang diadakan di negeri Belanda. Duta Besar Indonesia di Belanda, Abdul Irsan, atas kesadaran nasionalismenya akhirnya memilih tidak menghadiri acara perayaan yang dilaksanakan sepanjang tahun 2002 itu.

Irsan benar, sebab dipandang dari sudut manapun, VOC atau juga akrab disebut orang-orang tua bangsa Indonesia menyebutnya Kompeni, merupakan bagian tak terpisah dari kolonialisme Belanda di Nusantara. Tanpa VOC tak akan ada kolonialisme Belanda di Hindia Belanda (Indonesia), dan dalam konteks konstitusi sikap itu sejalan dengan konstitusi Indonesia yang tegas menyatakan,”Segala bentuk penjajahan di muka bumi harus dihapuskan.”

Saya lantas mencari artikel yang pernah ditulis Abdul Irsan (dalam Indonesia di Tengah Pusaran Globalisasi, 2007) yang dulu pernah saya baca, masing-masing berjudul “Peringatan 400 Tahun VOC”, “Peran VOC di Indonesia”, dan “Indonesia dan Proyek TANAP (Towards A New Age of Patnership)”.

Dari membaca ketika karya tulis Abdul Irsan ini, ada petunjuk bahwa Belanda sangat bangga dengan VOC-nya, dengan licik menghapuskan sisi kelam kekerasan VOC di bekas Hindia Belanda (Indonesia), serta mendaftarkan capaian VOC di beberapa negara (termasuk di Indonesia) ke Unesco.

KBRI Den Haag telah melakukan beberapa langkah terkait tindakan Belanda ke Unesco itu, dan upaya Belanda itu berhasil digagalkan. Saya belum jelas benar apakah agenda keinginan menjadikan Kawasan Kota Lama Semarang sebagai wolrd heritage yang merupakan peninggalan sejarah kolonialisme itu sejalan dengan kepentingan Belanda setelah kegagalan mereka menjadikan VOC sebagai wolrd heritage, soal ini patut didalami lebih jauh.

Dari Abdul Irsan itulah saya mendapati adanya indikasi keinginan Belanda yang tampaknya punya kepentingan melestarikan peninggalan sejarah/budayanya di Indonesia, bukan hanya warisan kebendaan (bangunan, situs, benda, dan kawasan) melainkan juga warisan nonbendanya (peringatan 4 abad VOC, dll).

Sepanjang Irsan ketahui, Belanda diam-diam telah menggunakan agen-agen kebudayaannya di Indonesia (LSM-LSM dan organisasi swasta) guna melakukan berbagai kegiatan di Indonesia yang dikaitkan dengan peringatan 4 abad VOC, tentu dengan biaya Belanda.

Kegiatan peringatan 400 tahun VOC antara lain  berbentuk bantuan keuangan (yang menurut informasi yang diterima Abdul Irsan) berjumlah 10 juta gulden, yaitu untuk memugar monumen-monumen VOC yang tersebar di Indonesia, khususnya di Jakarta dan kawasan Maluku, termasuk di Pulau Banda.

Abdul Irsan juga berkisah dirinya pernah diwawancara de Telegraaf yang menanyakan rencana Belanda memugar Benteng VOC di Pelabuhan Sunda Kepala Jakarta. Irsan telah mengatakan dalam wawancaranya itu, bahwa keinginan Belanda memugar monumen-monumen Belanda di Indonesia itu patut dihargai, tetapi hendaknya juga memugar tempat-tempat di mana Belanda juga menyiksa rakyat Indonesia.

Hal itu dirasa perlu, kata dia, agar masyarakat Internasional dapat melihat hubungan Indonesia-Belanda secara berimbang, di satu sisi Belanda memang berbuat positif untuk Indonesia tetapi di sisi lain Belanda juga menindas rakyat Indonesia.

Irsan menegaskan itu sebab berdasar pengalamannya selama di KBRI Den Haag, ia pernah dihubungi salah satu sekolah menengah umum di Belanda untuk berdiskusi mengenai hubungan sejarah kedua bangsa di masa lampau, dan terbukti pengetahuan generasi muda Belanda terhadap Indonesia tidak berimbang, yang mereka ketahui adalah Belanda (VOC) ke Indonesia hanyalah berdagang dan untuk bertujuan memasyarakatkan bangsa Indonesia yang dianggap primitif.

Dari situ kita bisa menjadi memiliki gambaran tentang apa kepentingan Belanda dan agen kebudayaannya di Indonesia atas peringatan Pasar Malam Sentiling di Semarang.

Pages: 1 2 3 4 5

Previous September Ceria
Next Sejarah Baru Drumblek Salatiga

You might also like

Sejarah 1Comments

Mempertahankan Jati Diri dan Identitas Kota Salatiga

Bangunan ex-Kodim adalah salah satu bangunan yang masuk dalam daftar Identifikasi Benda Cagar Budaya Kota salatiga pada tahun 2009, dan masuk klasifikasi bangunan klas I, dimana penjagaan dan pelestarian lebih

Berita 0 Comments

Akademisi UKSW sesalkan perobohan benda cagar budaya

Menurut Kepala Program Studi Sejarah FKIP-UKSW, perobohan Rumah Dr. Muwardi di Jalan Pemuda merupakan suatu bentuk peniadaan benda-benda sejarah. Hal ini sangat disayangkan mengingat sejarah penunjukan Kota Salatiga sebagai Kota

Berita 0 Comments

Sinergi Pembangunan Pasar Tradisional-Modern

Semangat sinergi program pembangunan daerah bagi masyarakat kecil telah tertuang dalam UU 32/2004. Asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image