Membongkar Konspirasi Perayaan 4 Abad VOC dan Peringatan Kolonial Sentiling (Bag 1)

Argumen saya tegas, bahwa memeringati maupun merayakan kemegahan peristiwa Kolonial Sentiling era kejayaan kolonialisme Belanda di Indonesia, adalah sama halnya merayakan kemegahan VOC pada era kejayaan Kompeni di Nusantara.

Kalau KBRI Den Haaq saja bisa mengambil sikap tegas atas perayaan 4 abad VOC itu adalah penghinaan bagi Indonesia, ini kok malah Pemerintah Semarang dan Kemenpar RI ikut memfasilitasi peringatan peristiwa Kolonial Sentiling? Bukankah itu sama saja ikut memeringati peristiwa yang dianggap Ki Hajar Dewantara sebagai penghinaan terhadap diri bangsa Indonesia?

Peristiwa peringatan seabad Kolonial Sentiling dst di Semarang ini juga mengindikasi bahwa Belanda tampaknya memang menginginkan ada pelestarian warisan budaya kolonial nonbenda di bekas tanah jajahannya, yang justru dilakukan oleh masyarakat bekas tanah jajahannya. Agen-agen kebudayaan Belanda di Semarang adalah organisasi swasta yang “merasa paling tahu tentang Kawasan Kota Lama Semarang”, menjalin relasi dengan Atase Kebudayaan Kedutaan Belanda di Indonesia, serta menjalin koneksi dengan “pihak-pihak Belanda” lainnya.

Seberapa jauh kualitas relasi itu masih perlu diselidiki, namun penyusupan agenda Kolonial Sentiling padahal gagasan peringatan 100 tahun kemerdekaan di tanah jajahan itu nyata-nyata mendapat protes dari Soewardi Soejaningrat, tentu merupakan keberhasilan para agen atas kepentingan Belanda itu.

Apa kepentingan Belanda dan agen-agen kebudayaannya di Indonesia ingin melestarikan event Kolonial Sentiling itu? Bagi saya kepentingannya adalah tentu tak jauh beda dari penjelasan Abdul Irsan perihal kepentingan mereka atas peringatan 400 tahun VOC.

Event ini dianggap sebagai worlds fair pertama di belahan bumi selatan yang meraih sukses besar. Tahun 2014 itu tepat 100 tahun pemerintahan Hindia Belanda mengadakan Tentoonstelling, di Kota Semarang, Jawa Tengah. Perhelatan akbar yang digelar pertama tahun 1914 tersebut merupakan pameran berskala Internasional terbesar pada tahunnya yang diikuti oleh beberapa negara seperti China, Australia, dan negara besar lainnya.

Dalam acara ini diadakan juga pertandingan sepak bola internasional yang pertama, sehingga pameran ini menjadi bagian penting dari sejarah persepakbolaan Indonesia. Tak dapat dipungkiri jika dengan adanya Tentoonstelling ini telah menjadikan kota Semarang menjadi mendunia. Untuk menyambut hajatan akbar ini Kota Semarang berbenah. Antara lain adalah membangun 2 stasiun besar yaitu Stasiun Tawang dan Stasiun Poncol, stasiun trem di Jurnatan diperbaharui.

Bahkan di daerah Candi, kawasan perbukitan di selatan Semarang yang sering disebut sebagai Semarang atas dibangun hotel. Penyelenggaraan Koloniale Tentoonstelling berlangsung dari tanggal 20 Agustus 1914 sampai 22 November 1914, berlokasi di daerah Mugas (sebelah barat Simpang Lima Semarang). Menempati lahan seluas 26 hektar milik seorang konglomerat paling kaya pada masa itu, yaitu Oei Tiong Ham.

gasfornuis-en-pannen-vermoedelijk-in-het-paviljoen-van-de-nederlandsch-indische-gas-maatschappij-op-de-koloniale-tentoonstelling-te-semarang

Tujuan utama acara ini sebenarnya adalah sarana untuk menunjukkan eksistensi Pemerintah Hindia Belanda atas prestasi yang telah dicapai di koloni jajahannya. Maka pesan atas adanya peringatan peristiwa Kolonial Sentiling tahun 1914 di Semarang sejak 2014 adalah jelas, yaitu untuk memeringati eksistensi itu.

Belakangan ini saya mendengar ada pernyataan sebagian dari para agen kebudayaan kolonial itu dengan dalih, bahwa Pasar Malam Sentiling itu hanyalah persoalan nama saja. Barangkali yang ingin mereka utarakan adalah, apalah arti sebuah nama. Hal yang mereka remehkan adalah, bahasa memiliki makna filosofis, ideologis, dan sosiologis.

Ada juga sebagian dari mereka yang menyatakan, peringatan peristiwa Kolonial Sentiling tahun 1914 tidaklah mengambil sumbangan dari inlander. Dikatakan mereka, tahun 1913 Soewardi Soerjaningrat memang memrotes gagasan Kolonial Sentiling karena akan meminta sumbangan dari rakyat inlander.

Tetapi kemudian dalam perwujudannya di tahun 1914 (saat berlangsung Soewardi Soejaningrat masih dalam pembuangan) yang membiayai adalah kalangan elit, rakyat inlander tak diminta sumbangan, pegikut politik etik juga terlibat, Pemerintah Karisidenan Semarang juga terlibat dengan visi lebih pada membangun Kota Semarang, orang Belanda yang belakangan adalah berubah menjadi pejuang revolusioner, Henk Sneevliet juga pada tahun 1914 ikut menyukseskan Kolonial Sentiling.

Pages: 1 2 3 4 5

Previous September Ceria
Next Sejarah Baru Drumblek Salatiga

You might also like

Artikel 0 Comments

Akademisi UKSW sesalkan perobohan benda cagar budaya

Menurut Kepala Program Studi Sejarah FKIP-UKSW, perobohan Rumah Dr. Muwardi di Jalan Pemuda merupakan suatu bentuk peniadaan benda-benda sejarah. Hal ini sangat disayangkan mengingat sejarah penunjukan Kota Salatiga sebagai Kota

Pendidikan 0 Comments

Aksi Demonstrasi Siswa SMA N 2 SALATIGA

Demokrasi, setiap warga negara berhak untuk menyuarakan aspirasinya, begitu pula yang terjadi di SMA Negeri 2 Salatiga. Senin, 15 Oktober 2012 siswa SMA Negeri 2 Salatiga menggelar aksi demo yang

Berita 0 Comments

Selasar Kartini atau Deretan Kios Kartini ???

Selasar Kartini, ya, nama itu dipilih untuk menghias dan mempercantik ruang terbuka hijau di sepanjang jalan kartini tepatnya di area depan SMA N 3 Salatiga. Hingga saat ini pengerjaan proyek

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image