Membongkar Konspirasi Perayaan 4 Abad VOC dan Peringatan Kolonial Sentiling (Bag 1)

 

Saya tetap pada pendapat saya bahwa peringatan Kolonial Sentiling adalah agenda penyusupan agen kebudayaan Belanda, dan sikap memfasilitasinya bagi saya adalah sikap yang aneh. Masalahnya bukan kemudian siapa yang membayai, tetapi ide perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda di tanah jajahannya itu sudah merupakan penghinaan.

Seperti dikatakan Soewardi Soejaningrat, “Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka (inlander)….” Idenya asaja sudah merupakan penghinaan, apalagi sampai dilaksanakan, dan satu abad kemudian diperingati. Okelah kemudian yang membiayai bukan inlander tetapi kaum elit pada masa itu, tetapi bukankah kaum elit ini secara ekonomi-politik merupakan kaum borjuis kaya raya dari sistem distribusi ekonomi kolonialisme yang tidak adil, di sisi lain kaum elit yang segelintir itu menjadi kaya raya, sementara mayoritas rakyat Indonesia diperbudak dan dirampok sumber dayanya.

Alasan tentang adanya orang-orang politik etik terlibat kemudian kita boleh menganggap peringatan itu tidak salah, itu juga adalah pendapat yang aneh. Menurutku juga, pengikut politik etik itu adalah manusia setengah orang, setengahnya prokolonial, setengahnya probumiputra.

de-ingangspoort-van-de-koloniale-tentoonstelling-te-semarang

Hal lain, soal Henk Sneevliet, menurut saya dia adalah orang Belanda yang mau berubah. Sebagai bule Belanda, ia telah berubah dari yang semula menyokong Kolonial Sentiling menjadi orang Belanda yang bergerak bersama Sarekat Islam dan inlander untuk berjuang bagi kemerdekaan Indonesia, ia bukan orang yang seperti Oei Tiong Ham dan pengikut politik etik lainnya.

Pahlawan nasional Tan Malaka pernah berkata (dalam Dari Penjara ke Penjara), kita seluruh bangsa Indonesia patut menghormati Henk Sneevliet atas segala jasanya bagi rakyat Indonesia.

Satu hal lagi yang patut saya tegaskan di sini, dalam hal saya atau orang lain mengkritik atau menolak peringatan Kolonial Sentiling tidak berarti kita ini anti-Belanda atau anti-orang Belanda. Bukan kok semua bangsa Belanda dan warisannya itu kita tolak, bukan itu tentu saja.

Nyatanya toh ada bangsa Belanda yang menyatukan diri dengan rakyat Hindia Belanda (Indonesia) untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti Sneevliet, Bergsma, Poncke Princen, dan lain-lainnya. Bukan pula kok kemudian yang kita tolak itu cagar budaya peninggalan kolonialnya, pelestarian cagar budaya warisan kolonial di Kawasan Kota Lama Semarang itu ya sudah sewajarnya. Ketika Pemerintah Kota Semarang (Dinas Pasar) ingin memusnahkan lebih dari 80 persen bangunan cagar budaya peninggalan kolonial Pasar Peterongan Semarang untuk diganti bangunan pasar modern tiga lantai, saya dkk juga yang mati-matian bergerak untuk penyelamatan Pasar Peterongan itu kok, dan di mata Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud kami menang.

Namanya peninggalan sejarah yang itu adalah cagar budaya ya wajib dilestarikan. Dalam sejarah apa pun, bahkan sejarah kelam Hitler dan Nazinya, peninggalan sejarahnya wajib dilindungi )ua kapalnya, tanknya, meriamnya, pesawat tempurnya, bahkan hal-hal keci terkait Hitler seperti surat atau lukisan karya dia yang mirip lukisan anak taman kanak-kanak, dan sbgnya, wajib dilindungi). Tetapi memeringati perayaan kejayaan Hitler dan Nazinya atas jajahan2 mereka di Eropa atau di manapun (meski itu atas nama kebebasan berekspresi), adalah suatu persoalan yang patut disikapi bersama.

Demikian pula dengan peringatan Koloniale Tentoonsteling (Kolonial Sentiling) yang diadakan di Semarang sejak 2014, merupakan suatu hal yang patut disikapi.

Sama-sama melestarikan warisan sejarah, memeringati Kolonial Sentiling di Semarang itu sama saja ibarat Belanda memenjarakan ribuan pemberontak bumiputra 1926-1927 di Boven Digul, Papua, tapi diperingati bukannya keprihatinan atas tertawannya ribuan pemberontak yang perintis kemerdekaan itu, melainkan malah memeringati kesuksesan Belanda memenjarakan pemberontak bumiputra itu.

Masih mending kalau event itu adalah event perihal sejarah perkembangan Kota Semarang, dengan tidak menyertakan event Kolonial Sentiling, sebab memang lebih patut kalau yang diperingati adalah gagasan Soewardi Soejaningrat yang menolak peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda di tanah jajahan.

Kita harus berhati-hati dengan agenda kebudayaan semacam peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas Perancis di tanah jajahannya. Patut dicurigai pula bahwa yang diincar bukan cuma peringatan event itu, tetapi di daerah-daerah lain di berbagai provinsi di Indonesia, Belanda dan agen-agen kebudayaannya di Indonesia juga mengincar peringatan event sejenis.

Untuk itu kepada rekan-rekan seniman, budayawan, sejarawan, dan pegiat sosial lain-lainnya di luar Semarang agar mewaspadainya.

Peringatan/perayaan 400 tahun VOC tahun 2002 dan peringatan Kolonial Sentiling tahun 2014-sekarang itu tampaknya dimaksudkan sebagai “pesan khusus” kepada generasi muda Belanda tentang kejayaan yang pernah mereka capai sebagai negara kecil yang mampu bersaing dengan kekuatan-kekuatan besar di Eropa pada abad-abad lampau dalam melaksanakan perdagangan internasional.

 

Foto : KITLV

Penulis : Yunantyo Adi – (Penikmat & Penggiat sejarah di Semarang)

Pages: 1 2 3 4 5

Previous September Ceria
Next Sejarah Baru Drumblek Salatiga

You might also like

Sejarah 0 Comments

R.A Soematri – Keluarga RA Kartini di Salatiga

Dalam seminar-seminar, diskusi-diskusi juga artikel dan buku-buku literatur yang mengulas tentang Kartini, yang terbit menjelang diperingatinya Hari kartini setiap tanggal 21 April sudah begitu Banyak. Dalam perkembangan penelitian tentang Kartini

Artikel 0 Comments

LGBT masa Kolonial : Operasi penyisiran hingga ke Salatiga

Pada 1938, Residen Batavia, Fievez de Malinez tertangkap basah tengah berbuat cabul dengan seorang lelaki muda bumiputera di sebuah hotel Tionghoa di Bandung. Peristiwa itu tak hanya menghebohkan, tapi juga

Artikel 0 Comments

Eksistensi “Divisi Tiang Salatiga” – Komunitas Skateboard Salatiga

  Berbicara mengenai komunitas yang ada di Salatiga banyak sekali komunitas yang bermunculan tiap tahunnya, namun cukup banyak juga yang tidak bertahan lama karena berbagai macam alasan. Dalam artikel ini

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image