R.A Kardinah (adik R.A Kartini) yang tinggal di Kota Salatiga

Tidak habis-habisnya jika kita membahas mengenai pahlawan-pahlawan nasional di Indonesia, mulai dari perjalanan hidupnya hingga masa-masa saat perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan untuk sebuah bangsa. Salah satunya adalah R.A Kartini yang saat ini tanggal 21 April selalu diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai pejuang emansipasi perempuan. Dimana Kartini muda hidup dalam belenggu adat yang menyadarkan dia akan pentingnya kesetaraan hak pada seluruh masyarakat Indonesia.

Teringat pada seminar yang diadakan oleh Univ. Soegijapranata, Semarang yang tepat setahun lalu dilaksanakan. Seminar tersebut mengangkat tema tentang R.A Kartini. Dalam Seminar tersebut dihadiri oleh keluarga R.A Kartini yang tinggal di Salatiga dan Para ahli Sejarah Indonesia, seperti Prof. A M Djuliati Soerojo, dan salah satu pembicara yang menjadi narasumber seminar yaitu Dr Joost Cote dari Monash University, Australia. Dr. Joost Cote inilah yang menerjemahkan surat demi surat tidak hanya surat R.A Kartini tetapi surat adik-adik R.A Kartini yang ada di museum maupun yang ditemukan dari teman-teman keluarga R.A Kartini di Belanda.

Dalam Seminar tersebut Prof Djuliati Soerojo mengatakan bahwa, Sebenarnya Kartini bukan sebagai awal perjuangan emansipasi perempuan, tetapi Kartini mengembalikan emansipasi perempuan yang mencakup hak-hak sebagai perempuan kembali pada jalannya semula. Karena sebelum ada tokoh Kartini sudah ada beberapa tokoh perempuan yang menjadi pemimpin perjuangan dalam sebuah kerajaan di Jawa seperti Ratu Shima dari kerajaan Kalingga yg ada pada abad ke 7 Masehi, kemudian ada Ratu Kalinyamat yang ada pada abad 16 Masehi. Menurut Prof. A M Djuliati, Kartini itu mengembalikan kembali hak-hak yang harus dimiliki oleh perempuan. Ketimpangan hak-hak antara laki-laki dan perempuan terjadi ketika berdirinya Kerajaan Mataram Islam di Jawa, adat istiadat kerajaan menjadikan perempuan sebagai kanca wingking saja, namun pada akhirnya Kartini memperjuangkan semuannya untuk mengembalikan hak-hak perempuan Indonesia pada jalurnya semula.

Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai kehidupan Salah satu adik R.A Kartini yang tinggal di Kota Salatiga setelah R.A Kartini meninggal dunia. Dari 10 saudara tiri maupun saudara kandung R.A Kartini, yang paling sering mendampinginya dalam perjuangannya adalah R.A Kardinah dan R.A Roekmini, sehingga mereka sering disebut 3 Saudara. R.A Kardinah adalah salah satu adik R.A Kartini yang tinggal di Kota Salatiga hingga akhir hayatnya. R.A Kardinah sebelum berpindah ke Salatiga tinggal di Tegal, karena beliau merupakan istri dari Bupati Tegal. Kemudian setelah suaminya meninggal, pada tahun 1930 R.A Kardinah memboyong keluarga dan memindahkan barang-barangnya dari tegal menuju Salatiga.

R.A kardinah - Adik R.A Kartini

R.A kardinah (dua dari kanan) – Sumber: http://infotegal.com/2011/01/raden-ajeng-kardinah/

Berasal dari keluarga Petinggi Pribumi yang terpandang di masyarakat jawa pada saat itu tidak menjadikan R.A Kardinah diistimewakan dimana saja, karena pada saat beliau ingin tinggal di Salatiga, beliau mendapat diskriminasi dari Pemerintah Kolonial di Salatiga. Beliau tidak diperbolehkan tinggal di ruas jalan Toentang weg (Jln Diponegoro saat ini) yang notabene dahulu adalah kawasan yang dikhususkan bagi masyarakat Eropa. Karena hal tersebut maka R.A Kardinah menempati salah satu rumah di Jln. Patimura, Salatiga saat ini. Rumah tersebut juga masih terawat hingga saat ini.

Namun Kardinah pada saat itu tidak selalu menetap di Salatiga, beliau berpindah dari satu kota ke kota lain seperti Semarang, Batavia untuk meneruskan gerakan perjuangan kakanya R.A Kartini dari berbagai macam bidang seperti Pendidikan, juga Kesehatan. Setelah masa Kemerdekaan R.A Kardinah baru bisa menempati salah satu rumah yang ada di Toentang Weg (Jln Diponegoro), tepatnya rumah yang dahulu dikenal dengan nama “WISMA KARDINAH” saat ini rumah tersebut sudah hilang dan menjadi gedung baru Fak. Ekonomi UKSW. Di rumah tersebut R.A Kardinah tinggal bersama dua keponakannya, Menurut cucu dari R.A Soematri yang juga tinggal berdekatan dengan R.A Kardinah. R.A Kardinah menghabiskan waktunya setiap hari untuk menulis juga menerima tamu dari berbagai daerah. Dirumah ini juga R.A Kardinah Meninggal Dunia. Itulah sekilas kehidupan R.A Kardinah di Kota Salatiga.

Kota Salatiga memiliki banyak sekali peristiwa sejarah Nasional, namun bukti-bukti fisik sudah hilang digantikan gedung dan bangunan-bangunan baru. Seharusnya hal-hal seperti ini bisa menjadi keunggulan kota Salatiga dari sisi pariwisata Kebudayaan dan Sejarah bangsa. Namun hal tersebut mungkin butuh waktu untuk mendatangkan keuntungan, sehingga membuat Kota Salatiga lebih memilih mendirikan bangunan-bangunan komersil yang cepat menghasilkan. Kota Salatiga akan menjadi kota yang modern dengan memperbanyak gedung2 megah.
Dan Ketika semua bukti Sejarah dan kebudayaan hilang di Salatiga, maka bersiap saja untuk jenuh menjadi warga Kota Salatiga yang hanya bisa mendengarkan cerita tentang Sejarah dan kebudayaan pembangunan Ruko, Mal, dll, yang mungkin menarik di era modern saat ini.

Semua manusia pasti pernah berdosa, tapi kita akan lebih berdosa jika kita melakukan pembiaran-pembiaran terhadap kondisi Kota dan hanya menerima pasrah dengan apa yang terjadi. Lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk Kota Salatiga yang lebih baik.

“Tengok dan Sapalah Sejarah juga Budaya Bangsamu, maka Akan Kita Lihat Bangkitnya Negri Ini”

– (Abel Jatayu P).

*ArtikelTambahan
http://nasional.kompas.com/read/2009/11/17/15194951/kutil.kardinah.dan.bu.sardjoe

Previous SEGITIGA (Serikat Gitaris Salatiga) - "GUITAR JAMMING"
Next Pameran fotografi “Page Not Found” dan Creative Sharing “A to Z Photography Exhibition” di Kota Salatiga.

You might also like

Berita 0 Comments

Sejarah Baru Drumblek Salatiga

Bagi banyak orang yang tinggal di luar kota Salatiga mungkin masih asing jika mendengar kata “drumblek”, karena kata ini memang tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun “drumblek”

Artikel 0 Comments

Akademisi UKSW sesalkan perobohan benda cagar budaya

Menurut Kepala Program Studi Sejarah FKIP-UKSW, perobohan Rumah Dr. Muwardi di Jalan Pemuda merupakan suatu bentuk peniadaan benda-benda sejarah. Hal ini sangat disayangkan mengingat sejarah penunjukan Kota Salatiga sebagai Kota

Sejarah 0 Comments

Idul Fitri di Tengah Gelombang Revolusi

TIGA pekan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sukarno mendengar desas-desus keberadaan Tan Malaka di Jakarta. Sebagai pemimpin politik yang telah diangkat menjadi presiden, dia ingin sekali bertemu dengan tokoh pergerakan legendaris

1 Comment

  1. Sanjay
    September 17, 11:08 Reply
    Siapapun bisa menjadi seetrpi Bu KardinahDengan dimulai pada hal yang kecil, Insya Allah akan menjadi besar dan dapat membawa perubahan bagi bangsa ini[]

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image