R.A Soematri – Keluarga RA Kartini di Salatiga

Dalam seminar-seminar, diskusi-diskusi juga artikel dan buku-buku literatur yang mengulas tentang Kartini, yang terbit menjelang diperingatinya Hari kartini setiap tanggal 21 April sudah begitu Banyak. Dalam perkembangan penelitian tentang Kartini ditemukan juga bahwa, tidak hanya Kartini saja yang berjuang melalui surat-surat dan pergerakannya untuk pendidikan, kemanusiaan dan perjuangan terhadap kaum perempuan. Pemikiran Kartini ternyata juga menular kepada adik-adiknya. Salah satu adik kandung kartini yang melanjutkan perjuangan Kartini adalah R.A Soematri, dimana R.A Soematri adalah adik terkecil dari R.A Kartini atau anak bungsu dari R.A Ngasirah. Memang nama R.A Soematri tidak sepopuler nama kakaknya R.A Kartini.

R.M Sosrohadikusumo dan R.A Soematri

R.M Sosrohadikusumo dan R.A Soematri

Dalam riwayatnya R.A Soematri setelah menikah dengan Sosrohadikusumo, salah satu masyarakat pribumi yang berperan di Volksrad (Dewan Rakyat pada masa pemerintahan kolonial) mengikuti suaminya, dan pasangan ini tinggal di luar jepara, tepatnya di beberapa kota seperti Semarang, Batavia, dan pada akhirnya mereka bertempat tinggal di Salatiga, sesuai dengan tulisan suratnya di Salatiga yang berangka tahun 1935. Di dalam artikel ini kita akan mulai megenal peran dan pemikiran yang lain di balik figure Kartini, dimana pengaruh perjuangannya menular kepada adik-adiknya.

Pada hari Jumat tanggal 19 April 2013, diadakan sebuah seminar yang diadakan di Universitas UNIKA Soegiapranata. Seminar tersebut mengulas tentang pemikiran R.A Soematri (adik bungsu R.A Kartini) dengan nara sumber Dr. Joost Cote dari Monash University, Australia. Dalam acara tersebut juga dihadiri oleh salah satu keluarga dari R.A Kartini. Dr. Joost Cote adalah salah satu Sejarawan berkebangsaan Belanda yang membaca, memahami, dan mengupas surat-demi surat Kartini berserta adik-adiknya. Di Dalam Penjelasan Joost Cote, ia mengatakan bahwa Soematri adalah seseorang yang Modern pada zamannya, yang dapat dilihatnya dari surat-surat R.A Soematri kepada sahabat-sahabatnya di Belanda.

Sebagai contoh ketika Soematri menyebutkan suaminya dalam suratnya, dalam masyarakat jawa kala itu suami adalah seseorang yang harus dihormati, dlm menyebut nama seorang suami harus menggunakan sebutan atau istilah yang sangat sopan. Ternyata hal tersebut tidak dilakukan oleh Soematri. Dalam surat-surat  Soematri yang dikirimkan kepada salah satu sahabatnya di Belanda, dirinya menyebutkan suaminya dengan istilah Boy Friend/ my boy friend, dan juga “my mad” (Suami dari Soematri bernama Ahmad) ini hal yang sangat aneh dan luar biasa yang dapat kita temui ketika masa itu. Dalam Surat-suratnya Soematri yang lain juga mengkritisi mengenai poligami yang memang diperjuangkan oleh kakaknya R.A Kartini. Dalam beberapa catatan yang ditemukan, Soematri bersama kakaknya kardinah juga merintis  sebuah Rumah Sakit di Kota Tegal yang pada akhirnya bernama Rumah sakit kardinah.

Hal diatas adalah sebagian kecil yang dikupas dalam seminar  tersebut.  Memang belum begitu dikenal nama Soematri sebagai adik kandung R.A Kartini di masyarakat Indonesia. Sebagian besar masyarakat pasti hanya mengenal sosok kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April. Namun pemikiran Soematri dalam setiap suratnya telah mewakili Perempuan jawa yang pada zamannya hak hidupnya sebagai seorang manusia sangat dibatasi, melalui surat dan pergerakannya Soematri mencoba untuk mengubah paradigma dan mendobrak tradisi-tradisi resmi jawa yang pada zaman itu sudah tertanam bahwa seorang perempuan hanyalah sebagai “konco wingking” saja dalam istilah bahasa jawa.

Dalam riwayat hidupnya Soematri oernah tinggal di Salatiga. Soematri di Salatiga bertempat tinggal di jalan Diponegoro Salatiga, tepatnya berada di depan kampus UKSW yang saat ini halaman depan rumahnya menjadi salah satu ruko di kawasan tersebut, namun rumah utamanya tetap terjaga. Soematri mulai tinggal di Salatiga sekitar tahun 1930’an kemudian pindah ke Batavia, namun skitar tahun 1940’an Soematri dengan suaminya kembali lagi ke salatiga dan tinggal di Salatiga. Soematri tetap tinggal di salatiga hingga akhir hayatnya, Soematri meninggal pada tahun 1963 di Salatiga.

Dari setiap tahun dalam peringatan hari Kartini slalu dan pasti diperingati dengan meminjam kebaya, lomba modeling, lomba merias, dll, seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun pemikiran, sifat, sikap, dan semangat R.A Kartini sebagai seseorang yang memperjuangkan dasar dari sebuah kehidupan yaitu kemanusiaan belum begitu di tanamkan, diperkenalkan, juga dikupas pada setiap diperingatannya hari kartini. Semoga keteladanan R.A Kartini dan keluarganya yang telah dirintis ketika hak-hak kemanusiaan direnggut oleh kekuasaan kolonial dan kekuasaan tradisional adat ketika Negara Indonesia belum berdiri menjadi semangat untuk perubahan dalam setiap kehidupan kita, tidak hanya untuk kepentingan pribadi, namun untuk perubahan bagi orang-orang disekitar kita. Setiap manusia dalam hidup pasti tidak akan luput dari dosa, namun akan lebih berdosa ketika manusia hidup dan tidak mendayagunakan hidupnya untuk lingkungan di sekitarnya.

Foto: KITLV dan koleksi keluarga R.A Soematri

“Tengok dan Sapalah Sejarah Juga Budaya Bangsamu, maka akan kita lihat Bangkitnya Negeri ini!”

Abel jatayu Prakosa

Previous City Net - Warnet, PS 2 dan PS 3
Next Lomba Fotografi - Tema Pasar Tradisional

You might also like

Artikel 1Comments

Seni Budaya Bersemi

 Seni Budaya Bersemi di kota Salatiga        April 2012,tercetus sebuah ide untuk membangkitkan seni budaya Salatiga yang perlahan tenggelam di telannya waktu. Kepala Dishubkombudpar (Dinas Perhubungan Komunikasi Budaya dan Pariwisata)

Artikel 0 Comments

Akademisi UKSW sesalkan perobohan benda cagar budaya

Menurut Kepala Program Studi Sejarah FKIP-UKSW, perobohan Rumah Dr. Muwardi di Jalan Pemuda merupakan suatu bentuk peniadaan benda-benda sejarah. Hal ini sangat disayangkan mengingat sejarah penunjukan Kota Salatiga sebagai Kota

Teknologi 0 Comments

The Power of “Lungguh” (F.A Brian Ganda Pratama)

Sudah asik dan tergantung dengan tekhnologi ciptaan negara Tetangga? sehingga kosakata kita saat ini makin dipenuhi oleh kosakata bahasa asing dari berbagai macam merek tekhnologi yang kita gunakan saat ini?.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image