Relasi: Rumah, Alam, dan Makhluk Hidup

Rumah tinggal berbahan kayu, rumah yang memperhatikan keadaan lingkungan sekitar tempat tinggal, keberadaan halaman dan ruang terbuka untuk aktivitas sosial, mungkin sekarang sudah makin jarang ditemui di Indonesia. Arsitekur dan desain rumah modern berkiblat eropa (Mediterania, Minimalis, dll) tampakya sudah melekat di hati bangsa Indonesia dan menjadikan hampir semua rumah di Indonesia memiliki karakter yang sama dari berbagai daerah,baik pegunungan maupun pesisir, juga tidak tampak lagi karakter dan corak kebudayaan yang ada pada setiap daerah di Indonesia. Mungkin beberapa puluh tahun lagi anak cucu kita sudah tidak melihat dan mengenal lagi seperti apa wujud dan rasanya tinggal di rumah joglo, Panggung, Gadang dan rumah-rumah tradisional lainnya.

Rumah Pribadi dapat mencerminkan karakter bangsa Indonesia saat ini, Rumah dengan arsitektur modern saat ini juga menunjukkan perubahan sifat pada bangsa Indonesia. Arsitektur modern yang sebenarnya tidak cocok untuk daerah pesisir maupun pegunungan terkadang cenderung di paksakan, rumah yang menjulang dengan dilengkapi fasilitas AC entah dimanapun daerahnya dipandang sebagai rumah yang mewah dan patut untuk dikagumi. Banyak rumah pribadi yang keseluruhan halaman rumah di tutup beton, atau semen, sehingga tidak ada lagi ruang untuk resapan air, dan ini dilakukan agar rumah lebih tampak bersih, namun mengorbankan kelestarian lingkungan. Bahkan di negeri yang dapat mengubah tongkat kayu dan batu menjadi tanaman ini keberadaan pepohonan/ tanaman sudah jarang ditemui di area rumah tinggal pribadi.

Pagar rumah mewah

Gambar 1,1 Pagar rumah mewah.
Sumber: http://desainrumahcantik.com/koleksi-pagar-rumah-mewah/

Dapat kita saksikan juga realitas pagar di lingkungan kita masing-masing, jika diperhatikan, pagar-pagar rumah di daerah perkotaan semakin lama semakin menjulang, dan jika perlu, rumah tidak terlihat. Secara tidak disadari realita ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin memberikan sekat sendiri pada lingkungan sekitarnya, dan tingkat ketidak percayaan masyarakat pada lingkungan sekitar terlihat pada tinggi pagar di setiap lingkungan masyarakat. Berbeda jika kita bandingkan dengan daerah pedesaan dengan pagar-pagar tanaman, atau bahkan rumah-rumah di pedesaan tidak memerlukan pagar. Hal tersebut terjadi karena masyarakat pedesaan lebih mengenal lingkungan sekitarnya entah alam atau manusiannya. Sehingga masyarakat pedesaan memiliki rasa aman tinggal sebagai warga desa sehingga tidak memerlukan pagar sebagai pelindung, karena komunitas sekitarnya itulah yang menjadi pagar pelindung dari segala macam bahaya dan ancaman.

Rumah Joglo

Gambar 1.2 Rumah Joglo di daerah pedesaan.
Sumber: rumahjawaantik.blogspot.com

Jika dibandingkan dengan masyarakat Pedesaan, tingkat stres pada masyarakat perkotaan lebih tinggi daripada daerah pedesaan yang memiliki lingkungan asri. Jarang skali kita yang hidup di kota dapat mendengarkan hembusan angin yang diiringi dengan gesekan dedaunan dan ranting pohon, suara katak, dan burung-burung, serangga yang dapat membuat kita lebih rileks jika merasakannya. Hal tersebut tidak didapatkan karena semakin berkurangnya ruang terbuka hijau di lingkungan kita.

Hal-hal kecil seperti inilah yang terkadang tidak disadari oleh sebagian masyarakat saat ini. Sehingga ketika akhir pekan banyak orang yang mencari dan ingin menikmati suasana pedesaan, untuk sekedar melepas penat. Hal ini juga memberikan gambaran bahwa sebenarnya masyarakat rindu akan kehidupan sosial yang pernah ada di lingkungan mereka entah di masa kecil mereka, atau pengalaman yang menunjukkan hubungan antara rumah tinggal, alam, dan hubungan sosial masyarakat. Ketika kita dapat bertindak untuk menjaga keharmonisan lingkungan sekitar kita, kita telah ikut serta dalam menjaga kelestarian dan keserasian Dunia.

 

“Tengok dan Sapalah Sejarah juga Budaya Bangsamu, Maka akan Kita Lihat Bangkitnya Negeri Ini”

Abel J.P

Previous 85 Tahun Sumpah Pemuda - Terperangkap dalam Zona Nyaman Globalisasi
Next DAFTAR INFORMASI TELEPON PENTING KOTA SALATIGA

You might also like

Sejarah 0 Comments

Pelestarian Arsitektur dan Tata Ruang Kota Salatiga

Gambar: Pusat Kota Kolonial, Kota Salatiga (Bundaran Ramayana) Setiap kota pastinya memiliki jati diri dan karakteristik kotanya masing-masing. Namun dalam perkembangannya, makin lama banyak kota yang sulit dibedakan satu dengan

Seni dan Budaya 0 Comments

DRUMBLEK Salah Satu Aset Kesenian Kota SALATIGA

Para penabuh dengan beberapa atribut khasnya, memainkan musik dengan media tong bekas. Mereka memainkan musik secara berkelompok dengan berbaris layaknya sebuah kelompok Marching Band. Kita bisa menjumpai musik ini di

Pendidikan 1Comments

Mantan Ketua Senat Mahasiswa UKSW Tolak Mall baru

Baru-baru ini dunia pendidikan salatiga Khususnya Pendidikan Tinggi dibuat gerah dengan rencana pengembang untuk membangun Mall di lahan Ex KODIM 0714/Salatiga. Pasalnya, MALL tersebut akan berdiri diatas lahan yang berdekatan

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image