Selasar Kartini atau Deretan Kios Kartini ???

Selasar Kartini, ya, nama itu dipilih untuk menghias dan mempercantik ruang terbuka hijau di sepanjang jalan kartini tepatnya di area depan SMA N 3 Salatiga. Hingga saat ini pengerjaan proyek yang menelan dana 7 Miliar (belum termasuk lampu penerangan dan tanaman penghias) tersebut belum tuntas. Proyek yang berdurasi pengerjaan 105 hari tersebut sudah memasuki tahap akhir penyelesaian, pemlesteran telah dilakukan dan pembuatan pot-pot permanen telah dilakukan. Sepintas lalu tak ada yang janggal dengan pembangunan selasar kartini, namun akan terasa janggal bila masyarakat menilik pada detail gambar rancang bangun yang terpampang pada pertigaan Kartini.

Sesaat melupakan detail rancang bangun selasar kartini, mencoba menyimak pemilihan nama dan logika pembangunan yang disasar. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) online, Selasar mengandung arti (1) serambi atau beranda (ada yg tidak beratap); (2) bagian balai yg terendah tempat rakyat atau pegawai rendah menghadap. Bila ditelisik lebih jauh kata beranda sendiri mengandung arti ruang beratap yg terbuka (tidak berdinding) di bagian samping atau depan rumah (biasa dipakai untuk tempat duduk santai sambil makan angin dsb); teras; langkan. Jadi, mencoba sedikit menyimpulkan dari padanan kata yang ada, sebenarnya bangunan yang ada tersebut tidak akan digunakan untuk aktifitas ekonomi dengan berdirinya kios-kios terlebih selasar kartini berdiri diatas DAS (Daerah Aliran Sungai).

gambaran rencana penataan jl kartini

Dalam MMT yang menggambarkan detail rencana pembangunan tersebut nampak bahwa Selasar Kartini hanyalah sebuah bangunan terbuka hijau tanpa dihiasi oleh kios-kios seperti yang ada saat ini. Ironisnya, jumlah kios di sepanjang selasar tersebut berjumlah kurang lebih 20 kios, jumlah yang tergolong banyak jika pemerintah berdalih untuk memberikan fasilitas penunjang. Jika Pemerintah berinisiatif memberikan fasilitas penunjang berupa toilet dan kios cukuplah 5 buah kios kecil dengan ragam jualan yang berbeda, tentu hal ini sudah lebih dari cukup. Lebih aneh lagi, salah satu deretan kios menembus hingga menerabas pagar SDN 05 (menghadap ke SDN 05), yang artinya hanya memberikan layanan semacam kantin pada SDN 05 saja, bahkan deretan kios yang satu ini memotong deretan selasar yang dalam rancang bangun digambarkan “los” memanjang dari ujung SDN 05 hingga depan SMP N 1 Salatiga.

Ironis, ketika hak masyarakat untuk menikmati suasana terbuka di sudut-sudut kota beradu dengan dalih ekonomi, terhimpit dalam penuh sesak tubuh ini diantaranya, Maka dimanakah ruang terbuka yang dicitakan berada??? (And-Sty)

Previous Festival Mata Air 5 Salatiga
Next Salatiga Art Fest - The last holiday

You might also like

Artikel 0 Comments

UKSW dan Kampoeng Salatiga tuntut Walikota

Senin 5 November 2012, berdasarkan press release yang dikirmkan kepada redaksi kotasalatiga.com. Sebuah surat tuntutan dilayangkan oleh Universitas Kristen Satya Wacana tepatnya Himpunan Mahasiswa Sejarah, KaProgdi sejarah UKSW, Komunitas Kampoeng

Pendidikan 0 Comments

Press Release Acara “FAMILY GATHERING” – Perayaan HUT KE-38 Yayasan SION SALATIGA

Yayasan Sion lahir pada tanggal 10 November 1977. Pada tahun 2008, berubah nama menjadi Yayasan Sion Salatiga (Yasiga). Perayaan Hari Ulang Tahun Yayasan Sion Salatiga (YASIGA) tahun 2015 diselenggarakan di

Sejarah 0 Comments

Idul Fitri di Tengah Gelombang Revolusi

TIGA pekan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sukarno mendengar desas-desus keberadaan Tan Malaka di Jakarta. Sebagai pemimpin politik yang telah diangkat menjadi presiden, dia ingin sekali bertemu dengan tokoh pergerakan legendaris

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image