Sinergi Pembangunan Pasar Tradisional-Modern

Semangat sinergi program pembangunan daerah bagi masyarakat kecil telah tertuang dalam UU 32/2004. Asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah.

Salah satu implementasi dari peningkatan kesejahteraan oleh Menteri perdagangan adalah dengan melindungi pasar tradisional dan meningkatkan daya saing pasar tradisional di berbagai daerah. Dana yang disediakan untuk program ini tak sedikit, bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Alokasi dana ini disebut sebagai dana dekonsentrasi yang dapat dimanfaatkan oleh daerah dengan pengajuan proposal.

Pada tahun 2012 tercatat alokasi anggaran Kementerian Perdagangan sebesar Rp 400 miliar untuk membangun 70 pasar, 20 diantaranya pasar tradisonal percontohan. Salah satu pasar percontohan adalah Pasar Cokro Kembang, Klaten yang dibangun dengan anggaran Rp 7,611 miliar (SM 20/01/12).

Belajar dari Pasar Cokro kembang, ada peluang bagi pemerintah Kota Salatiga berkaitan dengan pembangunan Pasar Sapi Rejosari (meski namanya pasar sapi, pasar ini bukanlah pasar ternak namun pasar traidisonal pada umumnya) yang mengalami tarik ulur investor selama beberapa kali semenjak musibah kebakaran yang dialami pasar tersebut di tahun 2008.

Saat kebakaran 2008 terjadi, dari catatan pemkot, di Pasar Sapi terdapat 387 los dan 340 pedagang. Kemudian terdapat 69 kios yang dimiliki 63 pedagang serta terdapat 33 ruko yang dimiliki 33 pedagang. Adapun los yang terbakar mencapai 265 unit dan kios yang rusak 33 unit(SM 27/09/08). Dari data ini menunjukkan betapa Pasar Sapi Rejosari menjadi tumpuan utama ekonomi masyarakat kecil. Ironisnya, “kail” mata pencaharian mereka harus dijadikan bola liar kebijakan pemerintah terkait pembangunan kembali Pasar ini.

pasar rejosari (pasar sapi) salatiga

pasar rejosari – pasar sapi salatiga

Kembali ke permasalahan tarik ulur pembangunan kembali Pasar Sapi Rejosari. Semenjak 2008, tercatat setidaknya muncul beberapa kali wacana investor yang akan membangun pasar tersebut. Bahkan dana talangan dari APBD pun sempat diusulkan oleh DPRD Kota Salatiga.

Baru-baru ini muncul nama salah satu nama investor yang akhirnya memenangi tender pembangunan Pasar Sapi Rejosari. Hingga munculnya nama investor tersebut, belum pernah ada inisiatif pemerintah Kota Salatiga untuk mengajukan pembangunan kembali pasar ini kepada Kementerian Perdagangan melalui program revitalisasi pasar tradisional modern. Entah apa yang menjadi alasan munculnya pesimistis pemerintah daerah untuk mengajukan proposal terkait revitalisasi Pasar Sapi Rejosari tersebut.

Andai saja pasca musibah kebakaran yang terjadi di tahun 2008, pemerintah Kota Salatiga segera mengajukan usulan kepada Kementerian Perdagangan tentu saja tidak akan muncul tarik ulur terkait calon investor hingga perdebatan mengenai kisaran harga per los setelah di renovasi.

Sinergi Program pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam revitalisasi pasar tradisional-modern memerlukan sikap politik (political will) yang memihak kepada kepentingan masyarakat serta tanpa tendensi kepentingan tertentu. Dukungan dari seluruh elemen baik masyarakat, eksekutif dan legislatif mutlak diperlukan terhadap eksistensi pasar tradisional sehingga pasar tradisional sebagai kekuatan ekonomi mikro menjadi penggerak pembangunan daerah yang mandiri dan merata.

Artikel dikirimkan oleh Andre Sutantyo, S.Si Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Tata Negara UKSW

Foto: manteb.com

Previous Tips Memilih OS untuk Tablet PC - 2
Next Hancurnya Rumah Tinggal dr Muwardi

You might also like

Berita 0 Comments

Putra Salatiga Juara Wirausaha Ide Muda Jawa Tengah

Setelah berhasil menyisihkan para pesaing lainnya, Namuri Migotuwio berhasil masuk dalam 25 besar kontestan pada Senin 19 November 2012, sehari berselang, kembali Namuri membuktikan ketangguhan idenya dengan masuk 10 besar

Sejarah 0 Comments

85 Tahun Sumpah Pemuda – Terperangkap dalam Zona Nyaman Globalisasi

Tanggal 28 Oktober sangat erat kaitannya dengan Pemuda Indonesia.  85 tahun silam pada  tanggal dan bulan tersebut terjadi sebuah peristiwa yang membakar rasa persatuan pemuda bangsa sebagai satu Bangsa, dimana

Tokoh 1Comments

Candidate Heroes 2013

Bahrudin  tak  tahan  melihat  pendidikan  di tanah  air yang  semakin bokbrok dan mahal. Maka  ia  kemudian  mendirikan Sekolah SMP Qaryah Thayyibah.  Berdasarkan  pengalamannya,  bukan hanya biaya yang dirasa memberatkan tetapi

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply


CAPTCHA ImageReload Image